Dieny & Yusuf

Wisata Pedesaan dan Urbanisasi

Posted on: June 27, 2007

Oleh WIENTOR RAH MADA

Urbanisasi sudah menjadi permasalahan yang serius bagi negara. Tidak ada yang diuntungkan dari gejala sosial ini, kecuali pelakunya yang berusaha untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Daerah yang ditinggalkan akan merugi, karena sumber daya manusia potensialnya tidak memberikan kontribusi, sedangkan daerah yang didatangi mengalami pertambahan penduduk yang dalam akumulasi akan mendatangkan permasalahan sosial.

Urbanisasi lebih banyak terjadi, karena daerah asal tidak mampu memberikan kesempatan untuk mewujudkan harapan masyarakatnya. Ini terjadi terus-menerus yang pada akhirnya menurunkan kualitas hidup dan ekspektasi penduduknya.

Masih ingat kejadian di Prancis pada bulan November 2005? Kerusuhan di Clichy-sous-Bois, sebuah wilayah kecil di bagian barat laut Prancis, merebak dengan cepat ke wilayah selatan di Tolouse, Bordeaux, Montpellier, dan Pau. Kemudian dalam hitungan hari, menyebar ke arah utara, yaitu Lille, kemudian ke arah barat si Rennes sampai akhirnya tiba di ibu kota negara, Paris. Tercatat lebih dari 5.000 kendaraan dibakar, 395 orang ditahan, dan 36 polisi cedera. Tebak penyebab dari tragedi nasional Prancis ini? Migrasi, yang dalam lingkup keterbatasan jarak dinamai urbanisasi.

Sebagian wilayah yang memercikkan api didominasi oleh kaum imigran keturunan negara Tunisia, Maroko, dan Aljazair. Karena tergiur oleh perkembangan ekonomi Uni Eropa, imigran yang masuk lewat ‘pintu’ Prancis menjadi tidak terbendung.

Faktanya, migrasi kaum Afrika ke Eropa memunculkan permalahan ekonomi dan sosial yang siap meledak kapan saja. Di Indonesia, kuatnya aspek kekeluargaan dan humanisme di dalam struktur sosial pedesaan mengakibatkan urbanisasi tidak hanya berlaku bagi satu atau dua orang saja. Anggapan bahwa peluang dan tingkat keberhasilan di kota lebih besar, kerabat dan handai taulan pun diajak untuk mengadu nasib di kota.

Di Jawa Barat sendiri tingkat urbanisasi sudah sangat tinggi. Hal ini mengakibatkan ketimpangan di dalam penyebaran penduduk Jabar. Di tahun 2005 saja, 58,8 persen warga Jabar (dari 40 juta) berada di kawasan perkotaan. Diperkiraan dalam 4 tahun mendatang, jumlah tersebut akan menjadi 66,2 persen. Rata-rata nasional pada tahun 2005 adalah 48,3 persen dan 54,2 pada tahun 2010 (“PR” 13 April 2006).

Pemerintah daerah harus mewaspadai lonjakan urban ini, karena pengangguran terbuka di Jabar merupakan tertinggi secara nasional, yaitu mencapai 14,73 persen. Apabila lapangan pekerjaan tidak disediakan dengan tingkat perbandingan yang setara dengan tingkat urbanisasi, Jabar akan menjadi wilayah yang penuh dengan pengangguran.

Mengatasi permasalahan di atas tidaklah pernah mudah. Semangat otonomi yang masih membara harus menjadi fondasi untuk memagari potensi SDM daerah yang akan merantau. Salah satunya dengan memberikan proporsi yang seimbang kepada SDM daerah yang potensial. Salah satunya dengan memberikan kesempatan mengembangkan rural tourism (wisata pedesaan) di daerah. Mumpung rakyat kota, rakyat kaya, dan rakyat penguasa senang merasakan kembali suasana kampung. Sebagai nostalgia.

”Rural tourism”

Gejala rural tourism sudah terjadi sejak tahun 1950-an. Dimulai dari Eropa Utara sekarang sudah berkembang ke berbagai negara. Didasari oleh keinginan manusia untuk mendapatkan sesuatu yang lain dari sehari-hari, rural tourism mencapai tipping point-nya dengan lambat. Hasilnya, saat ini 62 persen wisatawan Belanda memilih pergi ke alam terbuka daripada menginap di hotel. Tiga puluh sembilan persen muda mudi Spanyol yang berumur 15 sampai 30 tahun pergi ke gunung untuk berwisata. Ini meningkatkan pengunjung di sembilan taman nasional yang dipunyai Spanyol setiap tahunnya. Di Prancis, aktivitas rural tourism melibatkan sepertiga dari total turis yang datang, 38,3 persennya merupakan day-tripper dan 33,9 persennya adalah turis yang menginap. Sayangnya, di negara Napoleon ini, hanya 2 persen petani yang memanfaatkan asetnya sebagai atraksi wisata padahal pasarnya tersedia luas.

Rural tourism dapat dianggap sebagai wisata pedesaan. Dalam cara pandang mikro, rural tourism melibatkan masyarakat petani/ pedesaan untuk memaksimalkan aset dan menjadikannya pendapatan tambahan. Jadi, konsepnya bukan mengganti kerja ke bidang pariwisata, tetapi mendapatkan penambahan pemasukan dari kegiatan yang dilakukan sehari-hari. Penambahan pendapatan ini didapat dari penjualan hasil pertanian ke wisatawan, menyediakan makanan/minuman, penginapan, dan atraksi lain yang dapat dikembangkan. Seperti, menunggang kuda, cenderamata, berburu sampai dengan mengembangkan olah raga tradisional pedesaan.

Gejala aktivitas rural tourism di Indonesia sudah terlihat sejak dimulainya krisis pada tahun 1997. Dimulai dengan banyaknya orang perkotaan yang menuai depresi karena tekanan pekerjaan. Sayangnya, rural tourism merespons ini dengan sangat lambat. Beberapa entrepreneur melihat peluang dan mengembangkan atraksi tradisional dengan keunikan kedaerahan. Terdapat beberapa hotel di Jawa Barat yang sangat tradisional, bahkan tidak terdapat televisi di kamar, tetapi mencatat penjualan yang fantastis dengan harga yang tidak murah.

Walaupun pergerakan rural tourism berjalan dengan lambat, komposisi dan permintaan pasar terus menanjak setiap tahunnya. Di tahun 2004, 97 persen turis Jepang yang berkunjung ke Indonesia menginap di boutique hotel dengan harga yang diatas rata-rata. Hotel butik ini terletak di pedesaan, terutama di pegunungan atau di wilayah pantai. Biar pun pelayanan yang diberikan masih berbintang lima, tetapi keinginan untuk mencari keunikan menjadi dasar yang sangat penting untuk menentukan tren mendatang. Tren yang lebih green dan environmental friendly.

Konsep ini, ditambah dengan upaya untuk menambah pendapatan keluarga sebetulnya adalah alasan utama mengapa rural tourism diperkirakan akan segera menjadi booming. Petani, nelayan ataupun penduduk yang berprofesi konvensional dapat memaksimalkan kehadiran hotel butik tersebut untuk menjual pengalaman berkebun, menyiangi sawah, membajak sawah, sampai dengan menangkap udang galah di pantai. Sinergi penduduk sekitar dan hotel akan memunculkan memori yang indah bagi wisatawan.

Para petani dan pekerja tradisional tidak akan lagi bekerja musiman, karena kegiatan pariwisata secara holistik menutupi masa tidak produktif. Karakteristik petani kita yang kebanyakan mempunyai peternakan, lahan pertanian dan bahkan lahan pembiakan ikan semakin memudahkan mengatur itinerary. Seorang petani yang mempunyai dan menggarap lahannya sendiri dapat melibatkan anak-anaknya untuk mengurus aktivitas rural tourismnya.

Memulai

Memulai sesuatu yang baru tidak pernah mudah. Walaupun aktivitas rural tourism sudah menggejala di beberapa tahun terakhir dengan wujud special interest tourism, tetapi perlu ada rencana dan implementasi nyata dari para pelakunya. Di Irlandia, bahkan dibentuk kementrian tersendiri untuk mengurusi rural tourism, yaitu Minister of Rural Tourism.

Di Indonesia, dengan berlangsungnya otonomi daerah seharusnya dapat mendorong pariwisata ke arah perilaku rural. Berbagai keuntungan dapat didapat daerah, selain mendorong PAD, yang terpenting adalah tidak ditinggalkan oleh talenta (SDM) potensialnya. Sayangnya, arah kebijakan pariwisata daerah kerap kali tidak memunculkan ketajaman strategi dalam pengembangan rural tourism. Bagi pengambil kebijakan di daerah, aktivitas di destinasi pantai akan selalu berhubungan dengan berenang, dan aktivitas di pegunungan dihubungkan dengan treking. Beberapa daerah bahkan jelas-jelas memproklamasikan diri tidak mempunyai potensi wisata yang cukup untuk dikembangkan. Padahal rural tourism tidak pernah membatasi dirinya dalam wujud aktivitas dasar. Mulainya bisa dari mana saja perajin, petani, nelayan, perkebunan, peternak, bahkan seorang pandai besi tradisional bisa saja secara cerdik menjaring wisatawan asing ataupun lokal yang berkeinginan untuk tahu lebih banyak.

Menurut Prof. Alain Parenteau, fasilitator rural tourism dari Uni Eropa, pemerintah harus mempunyai goodwill untuk merealisasikan ini. Institusi pariwisata, seperti industri, akademisi, dan berbagai asosiasi kepariwisataan harus rajin didorong bekerja sama dengan asosiasi petani, nelayan mapun asosiasi profesi tradisional lainnya untuk mengedukasi bagaimana menambah income dengan tanpa merubah aktivitas sehari-hari. Akademisi pariwisata harus pula menjalin kerja sama dengan akademisi agrokultur untuk merubah cara pandang bertani menjadi lebih bernuansa wirausaha. Bahkan apabila diperlukan, kurikulum di institut pertanian digeser menjadi agro-tourism (wisata pertanian).

Pandangan ini mempunyai implikasi yang luas terhadap keadaan sosial-ekonomi masyarakat di masa mendatang. Apabila setiap keluarga di daerah pedesaan sudah mampu menambah pendapatannya, maka daerah mempunyai pendapatan rata-rata per kapita yang lebih besar. Pendapatan perkapita yang besar berarti pemerintah daerah akan dapat mengentaskan kemiskinan lebih cepat. Ini berarti pengangguran semakin sedikit, karena angkatan kerja yang ada setiap tahunnya langsung diserap. Apabila ada banyak pekerjaan di daerah maka tingkat urbanisasi dapat diminimalisasikan.***

Penulis, Dosen dan Kepala Unit Professional Development Centre (Prodec) Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung.

Sumber: Pikiran Rakyat, Rabu, 26  April 2006

________________________________________

http://dunia-indah.blogspot.com

3 Responses to "Wisata Pedesaan dan Urbanisasi"

saya pernah tulis artikel tentang urbanisasi. Artikel tsb mengutip beberapa studi yang intinya urbanisasi bisa saja menjadi fenomena yg bermanfaat. Berikut linknya: http://zahidayat.wordpress.com/2007/05/14/mungkinkah-urbanisasi-bermanfaat/

Pemda… ayo bangun daerahmu.. jangan biarkan warga pergi meninggalkan desanya

hahahahahaha . gg ngerti neh . anak smp . kalo mao cari kisah keberhasilan urbanisasi gimana shi ? .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

June 2007
M T W T F S S
« May   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  
%d bloggers like this: