Dieny & Yusuf

Savoy Homann, Rumah Bilik yang Jadi Hotel Ternama

Posted on: June 25, 2007

EESDROP ! Geesdrop! Leen me tien pop!” atau, “Setan gunung! Setan gunung! Pinjami aku sepuluh perak!”

SAVOY HOMANIni adalah kata sambutan khusus buat para tamu yang datang di hotel milik keluarga Homann yang kini berubah nama menjadi Savoy Homann Bidakara Hotel, Bandung. Tentu saja ini kata sambutan yang aneh. Maklum, yang menyambut tamu bukan manusia, tetapi seekor burung beo.

Sebetulnya Nyonya Homann menugaskan Wiem Homann Junior untuk menyambut tamu, tetapi Wiem yang nakal lebih senang keluyuran bersama teman-temannya. Akibatnya, hotel bagian depan kosong tanpa orang dan hanya ada seekor beo yang mudah meniru kata-kata yang berada di sana.

Hotel Homann dulu hanyalah sebuah rumah bilik bambu yang dimanfaatkan menjadi penginapan. Waktu itu di Bandung hanya ada sekitar tujuh rumah berdinding tembok. Namun, beberapa tahun kemudian penginapan itu pun dijadikan rumah berdinding setengah tembok dan setengah papan.

Pemilik hotel ini adalah keluarga Homann. Mereka berasal dari Jerman dan pindah ke Bandung tahun 1870 saat diberlakukannya Hukum Agraria yang mengizinkan perusahaan swasta atau perorangan memiliki tanah garapan atau kebun.

Keluarga Homann merenovasi rumahnya sehingga seluruhnya berdinding tembok. Hotel ini dipakai para pengusaha gula dari Jawa Tengah dan Jawa Timur saat mereka melakukan pertemuan di Bandung.

Berdasarkan buku Savoy Homann Bidakara Hotel, Persinggahan Orang-Orang Penting, yang disusun Haryoto Kunto, pada tahun 1884 turis yang datang ke Bandung makin banyak. Hotel Homann pun kebanjiran tamu karena saat itu perjalanan via kereta api dari Batavia ke Bandung mulai dibuka dan mereka membutuhkan tempat menginap di Bandung selama beberapa hari. Kehidupan pariwisata Bandung pun makin marak.

SAVOY HOMANN  IN 1938Hotel tersebut makin dipercantik dengan gaya art-deco yang banyak berkembang pada tahun 1920-an. Salah satu perubahannya, hotel diberi ornamen kaca patri dan penggantian mebel serta kap lampu. Namun, hotel ini tidak lagi dikelola keluarga Homann, tetapi oleh Fr JA van Es.

HOTEL ini juga pernah dijadikan tempat Kongres Teh Sedunia dan Kongres Ilmiah Pasifik IV. Selain itu, sejumlah orang ternama seperti pemain film terkenal Charlie Chaplin dan Mary Pickford, Pakubuwono X, dan Sri Mangkunegoro VII, pernah menginap di hotel ini.

Pada saat Pakubuwono X menginap, di luar hotel banyak orang dari Jawa Tengah yang tidur di jalan depan hotel untuk mengharapkan berkah sang Raja Sala. Sementara saat Charlie Chaplin datang, masyarakat datang berbondong-bondong. Oleh karena itu, dibuat sebuah tipu muslihat, yaitu seorang pemain drama didandani seperti Charlie. Dia diminta masuk mobil Charlie palsu dan meninggalkan Bandung sambil meladeni masyarakat. Mereka tidak tahu bahwa yang ada di hadapan mereka bukanlah Charlie Chaplin asli sebab Charlie yang beneran pulang lewat pintu belakang hotel.

Pada tahun 1930-an pariwisata Bandung semarak, maka pengelola Homann pun telanjur terlena. Mereka tidak memerhatikan bangunan hotelnya yang sudah kalah cantik dari bangunan lain di kota Bandung. Hotel ini pun menjadi sepi karena tamu-tamu lebih suka menginap di hotel lain.

Keluarga Homann baru memperbaiki lagi hotelnya pada tahun 1937 dengan bantuan arsitek AF Aalbers. Hotel Homann direnovasi dan ditambah bangunan baru di pekarangan yang diberi nama Savoy. Oleh karena itu, hotel tersebut dikenal kemudian dengan sebutan Hotel Savoy Homann.

Pembangunan baru selesai pada tahun 1939. Sayang setelah tentara Jepang datang hotel ini berantakan. Bahkan hotel dijadikan asrama opsir Jepang pada tahun 1942. Hotel berikut fasilitasnya menjadi rusak terbengkalai.

Hotel itu baru diserahkan kepada Belanda pada tahun 1945. Sayangnya, fungsinya diubah menjadi markas Palang Merah Internasional. Baru setahun kemudian dikembalikan kepada Van Es, dan ia kembali mengelola hotel hingga menutup mata pada tahun 1952.

Sejak itu, pimpinan hotel beralih kepada istri Van Es, yaitu Van Es van de Brink. Namun, tidak berapa lama istri Van Es pulang ke Belanda. Sebelumnya ia menjual 60 persen sahamnya kepada keluarga RHM Saddak, anggota DPR RI sekaligus Direktur Firma Bidang Ekspor-Impor Saddak and Co.

Pada saat dipimpin Saddak, Hotel Savoy Homann dipakai sebagai tempat tinggal para kepala negara yang mengikuti Konferensi Asia-Afrika tahun 1955. Namun, tahun 1987 Saddak menjual saham hotel kepada HEK Ruhiyat, pemilik Hotel Panghegar, Bandung.

Ruhiyat memutuskan berkonsentrasi mengembangkan Hotel Panghegar pada tahun 2000. Ia melepas 89 persen sahamnya kepada Grup Bidakara. Oleh karenanya, kini Savoy Homann bernama Savoy Homann Bidakara Hotel. Kini di depan hotel tersebut tidak ada beo, tetapi seorang pria yang siap mempersilakan masuk sambil menyapa, “Selamat siang….”

Lebih lengkap mengenai Heritage Architecture?: Klik ARCHITECTURES

Sumber: Kompas, Minggu, 24 April 2005.

_______________________________________

http://dunia-indah.blogspot.com

2 Responses to "Savoy Homann, Rumah Bilik yang Jadi Hotel Ternama"

Saya adalah salah seorang putri dari Bapak R.H.M.Saddak.Sudah hampir 20 tahun saya sangat ingin mengutarakan kekecewaan dan kesedihan saya atas apa yang disebut “renovasi” ataupun “perluasan” yang dilakukan oleh para pemilik Savoy Homann sesudah ayah saya.Yang masih beraliran Art Deco hanyalah tampak luarnya saja.Tetapi begitu kita menginjakkan kaki didalam bangunan tersebut, hati saya menjerit.Kamar kerja Mr.Van Es, yang kemudian dipakai juga oleh ayah saya sebagai kamar kerjanya berubah menjadi Coffee Shop, yang konsep desainnya tidak jelas.Dan ini terjadi pada seluruh tata letak ruangan dan desain interiornya, tidak sedikitpun menyisakan kesan Art Deco. Pendek kata, beberapa waktu yang lalu, anak saya mengunjungi temannya yang kebetulan menginap di Savoy Homann.Dia mengatakan kepada saya, masuk ke Homann sekarang, seakan memasuki Hotel kelas Melati di Semarang. Bapak2 pengurus Bidakara, sewalah konsultan yang benar-benar menguasai Art Deco. Hotel Des Indes di Jakarta sudah hilang, Savoy Homann adalah satu-satunya hotel yang sehatusnya berkelas George V di Paris. Seandainya ada yang berminat untuk mengetahui tentang hotel ini lebih lanjut, saya bersedia untuk dihubungi. Savoy Homann bukanlah sekedar hotel yang pernah disinggahi Charly Chaplin. Hotel itu adalah salah satu kebanggaan bangsa Indonesia. Mohon maaf seandainya ada kata-kata yang tidak berkenan.

cool ternyata hotel ini punya banyak history dan sejujurnya sy lebih suka ngeliat arsitektur hotel ini pd waktu dikelola keluarga homan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

June 2007
M T W T F S S
« May   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  
%d bloggers like this: