Dieny & Yusuf

Konservasi Alam Melalui Elaborasi Ekoturisme

Posted on: June 23, 2007

Sebuah Alternatif untuk Dipertimbangkan
Oleh A. GIMA SUGIAMA

URGENSI konservasi alam bagi Indonesia tak dapat ditunda lagi. Hutan yang kita miliki ternyata tidak berhasil kita jaga. Puluhan ribu hektare hutan setiap tahunnya semakin rusak dan menjadi gundul. Lingkungan alam di sekitar kita terus-menerus mengalami degradasi. Akibatnya seperti yang kita lihat atau kita rasakan saat ini. Bencana alam terjadi hampir tiap saat di berbagai tempat. Banjir dan tanah longsor silih berganti menghentak dan mengoyak kehidupan rakyat.

Harian Pikiran Rakyat berulang kali memberitakan berbagai kejadian bencana alam di berbagai tempat, misalnya bencana yang terjadi pada tanggal 21 Januari 2003 lalu, empat kampung di kaki Gunung Mandalawangi Garut diterjang bencana alam sehingga 22 warga tewas terkubur hidup-hidup oleh longsoran tanah, ratusan rumah penduduk hancur, dan tentu saja masih banyak kerugian lainnya.

Konservasi alam merupakan upaya mempertahankan keaslian serta keasrian tatanan alam sehingga manusia dan makhluk hidup lainnya dapat tetap hidup dan terpelihara dengan baik. Konservasi alam dapat diusahakan melalui berbagai media, salah satunya melalui eksplorasi dan elaborasi ecotourism (ekoturisme). Pengembangan ekoturisme bukan saja sejalan dengan isu penanganan kerusakan hutan yang tiap hari digembar-gemborkan di negeri ini, tetapi juga sejalan dengan terus merebaknya berbagai isu yang berorientasi pada pemeliharaan lingkungan alam di berbagai belahan dunia.

Paradigma pelestarian alam perlu dipikirkan untuk ditata ulang sehingga bukan saja menjadi kewajiban pemerintah, namun seluruh komunitas idealnya bersatu padu. Kesadaran akan pelestarian alam perlu dibentuk dari bawah. Oleh karena itu, perlu membangun konsep dan menerapkan prinsip-prinsip penyadaran komunitas untuk pelestarian alam yang antara lain melalui ekoturisme. Isu mana saja yang melatarbelakangi pengembangan ekoturisme itu? Apa sebenarnya ekoturisme tersebut? Bagaimana mengeksplorasi dan mengelaborasi ekoturisme?

Isu kepariwisataan

Perkembangan industri pariwisata merupakan salah satu isu utama dari isu 4T dalam milenium ketiga. Keempat T tersebut adalah Transportation, Telecommunication, Tourism dan Technology. Artinya, pariwisata menjadi salah satu industri yang akan tumbuh dan dominan di berbagai belahan dunia pada milenium ketiga. Industri pariwisata selama milenium ketiga memiliki peran dan makna begitu tinggi dalam aspek kehidupan manusia.

Selain isu di atas, pemeliharaan lingkungan alam tiada hentinya menjadi isu penting dalam berbagai forum dunia. Lingkungan alam dijadikan basis pengembangan hampir keseluruhan industri. Pariwisata merupakan salah satu industri yang tidak luput dari tuntutan aplikasi pengembangan industri berwawasan pemeliharaan lingkungan alam tersebut.

Kerangka berpikir dan bekerja industri pariwisata berubah menjadi, bagaimana mengembangkan pariwisata tanpa mengubah dan merusak alam. Perumusan kerangka pengembangan pariwisata berwawasan pemeliharaan lingkungan adalah hal mendesak yang perlu direalisasikan. Makin mencuatnya isu pemeliharaan dan pelestarian alam diekspresikan antara lain dalam bentuk greenspeak. Greenspeak itu sendiri berkonotasi mendalam untuk kemaknaan “alam yang hijau dan terpelihara.” Oleh karena itu, serta-merta muncul isu go green. (Cooper;1997;WTO;2000).

Isu lain yang telah lama mengglobal adalah back to nature yang tidak luput menyentuh pengembangan pariwisata. Kembali ke alam menjalar bukan saja di negara-negara maju, tetapi juga masuk ke negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Indonesia memiliki kekayaan alam lebih dibanding negara lainnya di dunia. Alam hijau baik alam hutan maupun tanaman rekayasa manusia begitu melimpah. Dengan demikian Indonesia berpeluang membangun kepariwisataan yang berkelanjutan melalui pemeliharaan lingkungan alam.

Makna ekoturisme

Ekoturisme merupakan istilah berkonotasi pariwisata berwawasan lingkungan alam. Jenis wisata ini termasuk suatu bentuk pariwisata alternatif yang bertanggung jawab terhadap pelestarian lingkungan alam sekitarnya. World Tourism Organization (WTO) sebagai badan dunia kepariwisataan menggulirkan isu ekoturisme sejalan dengan manuver konservasi alam di berbagai belahan dunia.

Pemahaman masyarakat terhadap ekoturisme tidak jarang menyimpang dari makna yang sebenarnya. Ecotourism merupakan gabungan dari ecologycal dengan tourism. Ekologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya. Di Indonesia khususnya, keilmuan ini secara umum relatif belum berkembang sebagaimana diharapkan. Ilmu ini lebih banyak berkaitan erat dengan tatanan kehidupan manusia, baik manusia secara pasif sebagai bagian dari alam maupun manusia sebagai elemen aktif yang dapat merekayasa alam. Berbagai kegiatan kehidupan manusia yang berkaitan erat dengan ekologi antara lain kehidupan ekonomi, sosial, maupun budaya. (Hardesty;1977; Soewarno;2000).

Ecotourism atau ecologycal tourism diterjemahkan menjadi wisata ekologi, lengkapnya pariwisata ekologi, berarti bertanggung jawab atas perjalanan wisata ke area alam yang mampu memelihara lingkungan, serta bertanggung jawab untuk memelihara keberadaan manusia dan mahluk hidup di sekitarnya untuk tetap hidup aman dan nyaman dalam lingkungannya (Blangly dan Megan;1994). Tentu berbeda dengan hanya sekadar wisata alam. Karena itu penyetaraan makna ekoturisme dengan ‘wisata alam’ tentu saja tidak tepat.

Ekoturisme maknanya setara dengan pariwisata yang berwawasan konservasi lingkungan. Sementara itu, wisata alam adalah kegiatan berwisata di dalam lingkungan alam.

Apakah suatu kegiatan wisata alam merupakan ekoturisme? Mungkin ya mungkin tidak! Ini lain perkaranya! Kegiatan wisata alam umpamanya arung jeram, pendakian gunung, wisata selam, wisata tirta dan sejenisnya. Seluruh contoh wisata alam tersebut belum tentu dapat dikualifikasikan ekoturisme. Mungkin saja pendakian gunung menimbulkan kerusakan pada lingkungan dan keaslian alam pegunungan tersebut. Oleh karena itu, wisata seperti itu tidak masuk kualifikasi wisata berwawasan pelestarian lingkungan alam. Karena itulah, ekoturisme ini sarat oleh aspek primer yakni, mengelaborasi alam untuk kepentingan pariwisata tanpa menurunkan kualitas alam, atau mengubahnya menjadi wujud intervensi penyebab degradasi ekosistem.

Makna tema trilogi

Tema mass tourism berubah dari sun, see, sand menjadi tema trilogi yang berorientasi pada alam yakni nature, nostalgia, nirvana (Cooper;1997). Aspek alam atau nature merupakan daya tarik wisata yang asli atau prestine form. Keaslian alam disajikan dan ditawarkan untuk menciptakan pengalaman wisata bermakna. Misalnya membiarkan dan tetap melestarikan keindahan alam bawah laut di Bunaken.

Demikian halnya dengan aspek nostalgia, berbasis pada romantika sosial yang konstruktif atau menggambarkan realita utuh menyokong kekokohan daya tarik alam sebenarnya atau ecofundamentalism. Seperti, budaya masyarakat Baduy dan Dayak Pedalaman yang memiliki rasa rawat atau malire alam.

Sementara itu, nirvana merupakan istilah pengganti dari paradise atau surga yang telah lama dikenal dalam tema kepariwisataan tradisional. Nirvana ini dimaksudkan agar wisatawan dapat melepaskan segala kerisauan pikiran dan hatinya, sehingga dalam tahap akhir mereka memperoleh kesehatan spiritual. Misalnya, ketika memandang hamparan panorama keutuhan dan keindahan alam, maka tergeraklah hatinya dan menyadari betapa agungnya kebesaran Allah.

Paradigma hijau

Akumulasi dari isu yang berorientasi terhadap alam, mendorong perumusan paradigma baru dalam pariwisata yang terkait dengan alam. Paradigma hijau atau green paradigm merupakan salah satu paradigma yang sinergis untuk pengembangan ekoturisme (Weaver;2000).

Paradigma lingkungan yang telah lama dikenal di negara-negara Barat jika dibandingkan dengan paradigma hijau, terdapat perbedaan mendasar. Marilah kita toleh beberapa hal penting diantara lingkup paradigma hijau tersebut. Manusia yang dulu dianggap bukan bagian dari alam, kini dianggap sebagai bagian dari alam. Dulu manusia menjadi superior terhadap alam, kini berkedudukan setara alam. Dulu diyakini setiap kejadian di masa akan datang dapat diprediksi, namun kini masa depan alam dianggap sulit bahkan tidak dapat diprediksi.

Hal lain seperti penggunaan teknologi. Dulu teknologi lebih berorientasi pada penggunaan hard technology, kini sebaliknya lebih pada soft technology. Berdasarkan paradigma hijau ini, maka bukan saja sebagai upaya ‘proksi’ atau program yang mirip-mirip, bahkan kepura-puraan deudeuh pada lingkungan alam, namun absolut dalam bentuk “perwujudan” wisata berbasis konservasi alam.

Prinsip ekoturisme

Suatu kegiatan pariwisata dapat dikategorikan pariwisata ekologi jika memenuhi 5 prinsip ekoturisme (Cooper;1997). Kelima prinsip tersebut, 1) prinsip sustainable adalah pariwisata yang berkonsentrasi pada penyokongan pelestarian alam, 2) bahwa lingkungan alam harus aman dan terjamin keselamatannya untuk dijadikan harta warisan bagi generasi mendatang. 3) pemeliharaan beragam mahluk yang ada di sekitarnya, baik manusia, hewan, tumbuhan dan lain-lainnya apa pun yang berasal dari alam dan hidup di alam bersangkutan. Keragaman makhluk hidup diyakini dapat bertahan jika secara ekosistem terjaga. 4) merumuskan perencanaan secara holistik dan mengimplementasikannya secara holistik pula. Harmonisasi alam dengan manusia dan totalitas lingkungannya (environmental integrity) harus jadi kenyataan. 5) carying capacity, artinya seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan pariwisata tersebut mendapat manfaat. Tingkat kemanfaatan harus diperoleh baik secara dimensional bagi penyedia maupun bagi wisatawan.

Berdasarkan pemenuhan prinsipnya, pengembangan pariwisata berbasis pemeliharaan lingkungan ini dapat diketegorikan dalam hard ecotourism dan soft ecotourism. Hard ecotourism merupakan pengembangan wisata ekologi tanpa mengubah kondisi alam sekitarnya, tanpa penambahan aksesori apa pun yang menjadi daya tarik maupun sarana dan prasarana di tempat bersangkutan. Kondisi ini tentu amatlah berat. Jenis ini cocok dikembangkan di beberapa tempat umpama di daerah Kalimantan atau beberapa pulau kecil yang dimiliki Indonesia maupun di kawasan cagar alam, taman nasional, dan sejenisnya.

Sementara itu, jenis kedua menuntut perysaratan tidak seberat jenis sebelumnya. Tipe ini tentu lebih banyak diminati, namun demikian penerapan prinsip konservasi tetap menjadi panduan dalam mengembangkan jenis wisata ini.

Komunitas ekoturisme

Pengembangan pariwisata ekologi yang hati-hati (elaborasi) untuk kelestarian lingkungan tidak lepas dari dukungan komunitas di sekitarnya, baik dari masyarakat biasa maupun para pelaku dalam lingkungan industri dan pemerintahan. Beberapa pihak yang terinstitusi dalam pengembangan ekoturisme yang dikenal di Indonesia antara lain WALHI, ASITA, PHRI, HPI, PUTRI, pemda, Departemen Kelautan, Kehutanan, Kantor Lingkungan Hidup, LSM bidang lingkungan hidup, serta organisasi masyarakat setempat.

Pengembangan ekoturisme memerlukan kerja terpadu antara berbagai komponen masyarakat. Karena itu, perumusan berbagai kebijakan serta implementasinya, perlu melibatkan pihak terinstitusi untuk bekerja sama dalam suatu wahana. Wahana ini idealnya dibangun berdasarkan konsep bottom-up. Wadah yang dibentuk perlu dinasionalisasikan untuk membumikan ekoturisme di seluruh penjuru Tatar Nusantara ini.

Hal lain yang perlu diimplementasikan adalah prinsip-prinsip ekoturisme sehingga dengan aplikasi prinsip ini di samping akan banyak meraup devisa juga lingkungan alam tetap terjaga.

Beberapa hal penting perlu mendapat perhatian dari semua pihak terkait, 1) pengembangan ekoturisme perlu diyakini dan disadari berkontribusi menopang pelestarian lingkungan alam. 3) pengembangan ekoturisme perlu dibangun melalui totalitas upaya kebersamaan yang integral dalam suatu wahana komunitas kepariwisataan. 4) adanya kebutuhan mendesak membentuk asosiasi untuk mewahanai berbagai elemen yang terkait dalam pengembangan ekoturisme khususnya di tingkat daerah. 4) pelestarian lingkungan hendaknya menerapkan paradigma bottom-up yang dilengkapi konsep Atur-Diri-Sendiri (ADS) oleh komunitas ekoturisme. 5) perlunya mengembangkan ekoturisme secara hati-hati (elaborasi) agar lingkungan alam dan budaya masyarakat setempat tetap terjaga.***  

Penulis adalah peserta Program Doktor TMI – ITB dan Staf Pengajar Kepariwisataan Politeknik Negeri Bandung.

Sumber: Pikiran Rakyat, Sabtu, 15 Februari 2005.

________________________________________

http://dunia-indah.blogspot.com

1 Response to "Konservasi Alam Melalui Elaborasi Ekoturisme"

kegiatan pariwisata dapat dikategorikan pariwisata ekologi jika memenuhi 5 prinsip ekoturisme (Cooper;1997). Kelima prinsip tersebut, 1) prinsip sustainable adalah pariwisata yang berkonsentrasi pada penyokongan pelestarian alam, 2) bahwa lingkungan alam harus aman dan terjamin keselamatannya untuk dijadikan harta warisan bagi generasi mendatang. 3) pemeliharaan beragam mahluk yang ada di sekitarnya, baik manusia, hewan, tumbuhan dan lain-lainnya apa pun yang berasal dari alam dan hidup di alam bersangkutan. Keragaman makhluk hidup diyakini dapat bertahan jika secara ekosistem terjaga. 4) merumuskan perencanaan secara holistik dan mengimplementasikannya secara holistik pula. Harmonisasi alam dengan manusia dan totalitas lingkungannya (environmental integrity) harus jadi kenyataan. 5) carying capacity, artinya seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan pariwisata tersebut mendapat manfaat. Tingkat kemanfaatan harus diperoleh baik secara dimensional bagi penyedia maupun bagi wisatawan.

Berdasarkan pemenuhan prinsipnya, pengembangan pariwisata berbasis pemeliharaan lingkungan ini dapat diketegorikan dalam hard ecotourism dan soft ecotourism. Hard ecotourism merupakan pengembangan wisata ekologi tanpa mengubah kondisi alam sekitarnya, tanpa penambahan aksesori apa pun yang menjadi daya tarik maupun sarana dan prasarana di tempat bersangkutan. Kondisi ini tentu amatlah berat. Jenis ini cocok dikembangkan di beberapa tempat umpama di daerah Kalimantan atau beberapa pulau kecil yang dimiliki Indonesia maupun di kawasan cagar alam, taman nasional, dan sejenisnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

June 2007
M T W T F S S
« May   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  
%d bloggers like this: