Dieny & Yusuf

Wisatawan Diundang, Wisatawan Enggan Datang

Posted on: June 12, 2007

Ketimpangan pariwisata Bali saat ini sangat memprihatinkan, Bandara tidak
berkembang sesuai keperluan. Akomodasi memang berlebihan (bila peluang tidak
dimanfaatkan), rekreasi, pertunjukan dan hiburan tidak ada yang mengelola
secara profesional. Tempat-tempat perbelanjaan, penataan dan kebersihannya
kurang memberikan kenyamanan, ”pemerasan” pun terjadi nyaris di semua
sektor.

Wisatawan Diundang, Wisatawan Enggan Datang
Oleh N. Gelebet

PARIWISATA telah menjadi keperluan dalam kehidupan kota-kota dunia yang
kehilangan alam dan budaya dalam ketersesakan rasa ruang yang semakin
menghimpit. Pariwisata telah mempekerjakan 600 juta atau sekitar 17% dari
tenaga kerja global dengan share pariwisata 16% dari GNP dunia. Pariwisata
dunia tumbuh dengan 6,5% dan Asia Pasifik paling cepat dengan 9,8%.

Bagi Bali, Australia merupakan pasar utama pariwisatanya. Dalam sepuluh
tahun terakhir, Australia selalu menempati urutan kedua setelah Jepang
sebagai penyumbang wisatawan terbanyak ke Pulau Dewata. Sayangnya, sejak bom
Bali I, kunjungan wisatawan Australia ke Bali terus melorot. Bahkan, tahun
lalu jumlah kunjungan wisatawan dari negeri kanguru ke Bali hanya 47 persen
dibanding tahun 2005. Akibatnya posisi Australia digeser oleh Taiwan yang
menduduki posisi kedua setelah Jepang. Inilah antiklimaks dari serangkaian
tragedi yang menimpa Bali (BP, 19/2).

Proporsional

Membangun kepariwisataan perlu proporsional antarkomponen: bandara, hotel,
restauran, biro perjalanan, tekreasi, pertunjukan, hiburan, perbelanjaan.
Masing-masing bersinergi harmonis, dikelola dengan profesional, dapat
memberikan kepuasan, kenangan keindahan, aman dan nyaman, senantiasa
beradaptasi aktif dengan tuntutan peradaban yang berkembang. Meningkatkan
kualitas peran, pesan dan kesan manakala mengharapkan wisatawan berkualitas.

Ketimpangan pariwisata Bali saat ini sangat memprihatinkan, Bandara tidak
berkembang sesuai keperluan. Akomodasi memang berlebihan (bila peluang tidak
dimanfaatkan), rekreasi, pertunjukan dan hiburan tidak ada yang mengelola
secara profesional. Tempat-tempat perbelanjaan, penataan dan kebersihannya
kurang memberikan kenyamanan, ‘pemerasan’ pun terjadi nyaris di semua
sektor. Bagaimana mungkin pariwisata berkembang proporsional manakala ODTW
(Objek dan Daya Tarik Wisata) tidak menampilkan yang baru dan yang umumnya
masih telantar. Dengan sistem bapak angkat untuk perawatan beberapa ODTW
memang cukup berhasil, namun sentuhan penataannya masih jauh dari harapan

Gaung promosi recovery mendengung seakan merasuk ke seantero dunia. Namun
masih saja diragukan kebenaran apa yang telah dilakukan. Survai membuktikan,
nyaris tidak ada wisatawan yang datang ke Bali karena promosi. Kedatangan
mereka umumnya dari informasi keluarga atau temannya yang pernah ke Bali,
dari media cetak maupun elektronik dan program massal bagi wisatawan grup.
Dipertanyakan, sudahkah sesuai kedatangan wisatawan dari hasil promosi
dengan dana yang dihabiskan? Masih perlukah dana promosi menguras anggaran
yang tersedia, sementara OTW, perbelanjaan dan pertunjukan nyaris tanpa
sentuhan pembinaan?

Wisatawan diundang, mereka datang, dirancang untuk bertualang. Objek dan
daya tarik wisata untuk dipandang bukan dipegang. Untuk itu keamanan,
kenyamanan dan keunikan keindahan untuk kenangan yang dibawa pulang,
tentunya perlu dijaga kelestariannya, diupayakan peningkatan kualitasnya,
dan dimantapkan penataannya dengan dukungan sarana pendukung dan
penunjangnya yang harmonis selaras lingkungannya. Idealnya demikian,
faktanya sangat mengecewakan. Sebagian besar ODTW menyusui Pemkab yang
memanfaatkan sebagai sumber PAD-nya, desa yang mewilayahi untuk
kontribusinya dan kelompok yang mengelolanya sebagai sumber pendapatan.

Wisatawan diundang untuk datang, bukan dipajang di hotel, namun dirangsang
untuk berpetualang dalam paket-paket wisata dari ODTW ke ODTW lainnya.
Mereka diupayakan untuk tinggal lebih lama, pulang ke negaranya berpromosi
pada temannya, dan nantinya datang lagi. Ada kekeliruan persepsi selama ini
bahwa hotel diposisikan sebagai tujuan berwisata, sehingga ODTW nyaris
telantar tidak ada yang peduli. Seniman pengerajin dan seniman seni
pertunjukan hanya dijadikan objek pemerasan sehingga keringat mereka untuk
kelegaan mereka yang berpeluang atas prestasinya.

Pemkab yang menjadikan Sad Kahyangan sebagai ODTW untuk sumber PAD-nya, bila
dilacak perannya dalam lima tahun terakhir, dari penelusuran dokumen APBD,
tidak ditemukan adanya pos anggaran yang dikembalikan untuk perawatan
sebagaimana sebelumnya. Ironis memang, masyarakat yang menyerahkan warisan
leluhurnya sebagai penyertaan modal bagi pembangunan kawasan pariwisata
eksklusif, kini terlunta-lunta menjajakan jualannya di lahan yang telah
beralih fungsi super elite. Bahkan ada yang dipandang sebagai mencemari,
sehingga perlu dikumpulkan untuk dibina. Jelas mereka mengganggu keamanan
dan kenyamanan wisatawan. Menjajakan dagagangan memang terkesan liar, tetapi
itu dilakoni karena tidak ada tempat representatif baginya di kelasnya.
Dapatkah pemegang kebijakan, peraup keuntungan dan mereka yang memegang
mandat dan mengatasnamakan keberadaan masyarakat itu, untuk berbagi rasa dan
berlogika rasional menuntaskan masalah hidup dalam kehidupan yang
terpinggirkan? Seharusnya dibangun tempat yang layak bagi mereka sehingga
tidak lagi berkeliaran seakan liar. Dengan demikian mereka akan merasa
dimanusiakan kemanusiaannya. Hakikat kesejahteran adalah kebahagiaan bersama
dalam kebersamaan.

Selama ini tidak ada keterbukaan sehingga terjadi gugatan dan hujatan yang
salah arah karena persepsi yang keliru. Badan otorita adalah pelaksana
lapangan sebatas penugasan Dewan Komisaris yang terdiri dari dua; daerah dan
pusat. Penguasa dan yang membidangi international consultant pengkaji awal
terbentuknya kawasan pariwisata ini, merekomendasikan pimpinan lembaga adat
setempat mewakili kepentingan masyarakatnya yang telah merelakan lahan
kawasan sebagai penyertaan modal, sebagai anggota Dekom berperan dalam
mengupayakanm kesepahaman untuk menemukan kesepakatan dalam mengambil
kebijakan.

Sayangnya selama seperempat abad posisi tersebut dikosongkan dan kini selama
lima tahun disesatkan ke orang-orang antah berantah. Sehingga kesejahteraan
bagi masyaratkan setempat sebagai international pilot project tourist resort
hanya mimpi yang membuahkan apa yang berulang kali dijadikan objek
pembinaan. Akibatnya, terdapat sejumlah permasalahan yang belum dan tidak
akan pernah terselesaikan selama para pihak penyerobot hak lokal tidak mau
menyadari keberadaannya yang mengada-ada.

Penulis, dosen Fakultas Teknik Unud

* Gaung promosi recovery mendengung seakan merasuk ke seantero dunia, namun
masih saja diragukan kebenaran apa yang telah dilakukan.

* Survai membuktikan, nyaris tidak ada wisatawan yang datang ke Bali karena
promosi.

* Membangun kepariwisataan perlu proporsional antarkomponen; masing-masing
bersinergi harmonis, dikelola dengan profesional.

Sumber: Mirror Milis IKS @ Yahoogroups

Jum’at: 23 Februari 2007

Oleh: Ida Ari Murti

______________________________________

http://dunia-indah.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

June 2007
M T W T F S S
« May   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  
%d bloggers like this: