Dieny & Yusuf

Berubahnya Paradigma Pariwisata Global

Posted on: June 12, 2007

Oleh WIENTOR RAH MADA

PERUBAHAN tidak mengenal waktu dan tempat. Bisa terjadi dimana saja, kapan saja. Hal yang sama berlaku untuk pariwisata dunia pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya. Sebelum krisis 1997/8 pariwisata merupakan andalan untuk mendapatkan pendapatan negara dari devisa mata uang yang dibawa oleh turis asing. Bahkan sektor ini menempati urutan ketiga dalam meraup devisa non-migas, setelah kayu dan tekstil. Sekarang sektor ini sedikit terpinggirkan. Berbagai isu mutakhir lebih banyak berhubungan dengan energi, kesehatan dan ekonomi secara makro. Walaupun bidang-bidang tersebut berhubungan secara langsung dengan industri pariwisata, sepertinya pemerintah masih menempatkan pariwisata sebagai second impact.

Bom Bali misalnya. Setelah bersusah payah (dan akhirnya berhasil) mengembalikan citra Bali karena bom Bali 1, pemerintah kehabisan tenaga untuk merehabilitasi pariwisata Bali setelah adanya bom yang kedua. Isu yang muncul dari bom ini (terutama yang kedua) lebih banyak kepada pertahanan dan keamanan daripada pariwisata itu sendiri. Padahal Bali sangat menderita. Seorang teman di Bali mengatakan, apabila sampai dengan bulan Mei 2006 situasinya masih seperti sekarang, maka akan terjadi pemutusan hubungan kerja secara besar-besaran di Bali. Hotel tidak akan mampu membayar gaji karyawan karena tingkat huninya tidak pernah melebihi 10 persen.

Perubahan pasar

Salah satu sebab melemahnya sektor pariwisata di Indonesia adalah karena kita terlalu lambat mengantisipasi perubahan di pasar global. Selama ini anggapan yang beredar, bom menyebabkan semua aktivitas wisata lumpuh. Padahal ini hanya salah satu penyebab minor. Turis asing saat ini sudah sangat terdidik, jadi mereka sangat mengerti bahwa bom dapat terjadi di mana saja. Tidak hanya di Bali, barangkali di Mesir, Spanyol, Irlandia atau bahkan di Amerika sekalipun.

Turis terdidik ini adalah generasi kedua dari baby boomer, sebuah angkatan setelah perang dunia II. Generasi pertama baby boomer (lahir antara 1940-60) saat ini sudah mendekati masa pensiun. Ini adalah pasar yang sangat menjanjikan. Pensiunan, mempunyai uang banyak dan tidak mengerti harus berbuat apa. Di Amerika saja, 77 juta baby boomer akan pensiun tahun 2006. Lebih tepat lagi, 8006 orang Amerika merayakan ulang tahunnya yang ke 60 tahun ini, atau 330 orang setiap jamnya.

Jepang, pasar terbesar pulau Bali, diperkirakan akan ada lebih dari 8.500 orang merayakan pensiunnya setiap hari. Eropa dan bagian dunia yang lain tidak jauh berbeda. Generasi inilah yang mengisi berbagai kasus dalam text book dan menjadi sasaran penelitian selama ini.

Dalam pandangan makro, besarnya angkatan ini yang mulai pensiun akan membuat angkatan kerja di Barat menjadi semakin berkurang. Biarpun imigran selalu datang untuk mengisi berbagai pekerjaan, tetapi itu saja tidak cukup. Lihat bagaimana kaum imigran gelap di Amerika berdemonstrasi menuntut perlakuan yang sama dengan penduduk legal. Imigrasi dalam akumulasi jumlah yang membesar akan mendatangkan kerugian bagi negara tujuan.

Menurut Ho Kwong Pin, CEO Banyan Tree, sebuah grup resort hotel yang sangat berkembang, mengatakan bahwa perkembangan dunia akan menyebabkan mengalirnya pekerjaan untuk penduduk negara berkembang. Orang Barat tidak mau lagi mengerjakan pekerjaan ‘kasar’ dan menyebabkan banyak lowongan pekerjaan di Barat akan menjadi konsumsi negara berkembang. Ekspor sumber daya manusia yang mempunyai kemampuan khusus, seperti chef, spa therapist, sampai dengan perawat akan terus berlangsung selama beberapa tahun kedepan. Ini adalah kesempatan yang harus diraup oleh berbagai sekolah pariwisata atau sekolah kejuruan lain di Indonesia.

Baby boomer yang mulai pensiun dan angkatan kerja yang terlalu banyak kerja adalah pertanda bagus untuk kepariwisataan dunia. Hal ini mengindikasikan akan ada semakin banyak orang yang bepergian (baik bisnis ataupun bersenang-senang). Untuk keadaan yang demikian, sarana transportasi harus siap. Negara yang membuka dirinya selebar mungkin dengan memberikan kebebasan dan kemudahan dalam berkunjung akan mendapatkan share wisatawan lebih banyak. Kebijakan open-sky, untuk alasan pariwisata (dan berujung kepada perekonomian), lebih banyak lagi dimanfaatkan oleh negara berkembang. Menarik biaya fiskal untuk wisatawan asing yang akan pulang ke negaranya sendiri segera akan menjadi sangat menggelikan.

Perubahan mendasar yang lain adalah semakin banyaknya golongan middle-up di Cina dan India. Di Cina sendiri, jumlah golongan menengah keatas sudah mencapai angka 50 juta orang lebih. Diperkirakan pada tahun 2020, jumlah tersebut akan terus meningkat menjadi 170 juta. Pemerintah Cina pun menjembatani keinginan warganya dengan serius. Pembenahan infrastuktur terus dilakukan. Pariwisata domestik akan segera meledak di Cina dalam beberapa tahun ke depan.

Di India, indikasi meningkatnya golongan B+ ini terlihat pada tingkat penggunaan kartu kredit yang meningkat 35 persen per tahunnya. Dalam data statistik, sektor konsumsi menjadi penyumbang terbesar GDP India dengan 67 persen. Bandingkan dengan Cina yang hanya 42 persen. Siapapun akan senang dengan angka-angka ini. Bagi industri pariwisata, hal tersebut berarti semakin banyak orang yang ‘mampu’ secara finansial untuk membeli tiket pesawat lebih mahal, membeli suvenir lebih banyak, dan menyewa kamar hotel yang lebih berkelas.

Analogi umum mengatakan bahwa tingkat ekonomi yang lebih baik akan menyebabkan naiknya tingkat pendidikan. Semakin tinggi tingkat pendidikan berarti semakin banyak tuntutan. Hal tersebut menjadikan naiknya angka ekspektasi pasar terhadap kualitas destinasi secara umum. Asumsi ini berlaku generik di seluruh dunia.

Akibat dari tingginya ekspektasi, pasar akan sangat selektif memilih tujuan perjalanannya. Hanya destinasi yang dapat memuaskan kenginannya yang akan didatangi. Sea, sand, sun, yang selama ini menjadi pull factor pergerakan wisatawan semakin ditinggalkan dan 3S nya berubah menjadi safety, security, satisfaction. Paradigma baru ini menggambarkan betapa persepsi pasar pariwisata dunia sudah bergeser. Perhatian wisatawan saat ini lebih fokus kepada value yang ditawarkan destinasi daripada diversifikasi keunggulan komparatif yang diberikan oleh alam. Hal tersebut, kembali lagi, juga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan wisatawan yang semakin tinggi.

Regional

Perubahan ini tidak akan bergantung kepada kesiapan dunia menerimanya. Yang jelas ini akan segera (atau sudah?) terjadi. Siap atau tidak, paradigma perjalanan manusia akan berubah. Dari perspektif pariwisata, pergeseran paradigma mengharuskan pemerintahan di berbagai negara segera berbenah.

Sektor pariwisata adalah sebuah sektor yang sangat dinamis. Berkembang terus dari hari ke hari. Pergerakan wisatawan menjadi semakin random dan tidak terpola. Berbagai faktor dapat menyebabkan wisatawan asing membatalkan perjalanannya secara tiba-tiba.

Walaupun secara statistik turis dunia meningkat jumlahnya, tetapi penyebarannya terkonsentrasi di beberapa titik. Eropa dan Amerika, yang kuat secara nilai tukar finansial, mulai memilih untuk mengunjungi wilayah di sekitarnya daripada melakukan long-haul trip. Selain lebih berhemat, mereka juga akan merasakan value yang sama ketika berkunjung ke timur jauh. Wilayah Kepulauan Karibia kemudian menjadi alternatif yang mudah bagi penduduk Amerika Utara. Berbagai negara di wilayah inipun berusaha sekuat tenaga menggalakkan pemasaran untuk menjangkau pasar Amerika.

Barbados, salah satu negara di kepulauan tersebut, beberapa tahun terakhir berhasil menggaet rata-rata 927.000 turis asing per tahun. Jumlah yang kecil dibandingkan dengan Indonesia yang mencapai 4,5 juta. Tetapi bandingkan dengan jumlah penduduk Barbados yang hanya 254.000 orang dan Indonesia mempunyai 1000 kali lipatnya. Keunggulan Barbados adalah negara ini mempunyai banyak atraksi. Di sebelah barat terdapat Laut Karibia yang tenang dan memungkinkan wisatawan untuk menyelam, berenang dan berlayar. Sedangkan sebelah timur, Barbados dibatasi oleh Samudera Atlantik yang merupakan surga bagi para peselancar. Negara ini juga kaya akan flora fauna. Dengan komposisi penawaran yang sama, daripada melakukan perjalanan panjang ke Asia Tenggara, turis Amerika akan lebih memilih Barbados.

Pilihan wisatawan dunia yang seperti ini masih akan berlangsung selama beberapa tahun kedepan. Setelah beberapa tahun yang lalu, pergerakan wisatawan selalu dari negara maju ke negara berkembang karena asumsi value for money yang didapat akan lebih banyak. Sekarang saatnya turis bergerak intra-region, short-haul dan individual.

Penulis, Dosen dan Kepala Unit Professional Development Centre (Prodec) Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung, penerima Tourism Management Fellowship Program, Faculty of Service Industries, Prince of Songkla University, Thailand.Sumber: Pikiran Rakyat, Sabtu, 10 Juni 2006._______________________________________

http://dunia-indah.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

June 2007
M T W T F S S
« May   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  
%d bloggers like this: