Dieny & Yusuf

Pariwisata Budaya, Mengapa Tidak Sekarang?

Posted on: May 24, 2007

Oleh Roby ArdiwidjajaIndonesia adalah salah satu negara di dunia yang menyimpan banyak tinggalan budaya, dalam bentuk ide, perilaku ataupun materi. Keadaan ini tidak terlepas dari posisi strategis nusantara yang terletak di jalur perdagangan dunia. Selain itu, tanah yang subur menjadikan Indonesia pusat perhatian berbagai kelompok manusia untuk menetap dan mengembangkan kebudayaan masing-masing.
Dengan penduduk yang tersebar di sekitar 17 ribu pulau, Indonesia memperlihatkan kemajemukan masyarakat, bukan hanya secara horizontal tetapi juga secara vertikal. Pluralisme Indonesia ini tergambar dari jumlah 470 suku bangsa, 19 daerah hukum adat, dan tidak kurang dari 300 bahasa yang gunakan kelompok-kelompok masyarakatnya. Keanekaragaman ini makin diperkuat dengan peninggalan budaya masa lalu, seperti peninggalan arkeologi.
Inilah aset utama Indonesia yang jika dikelola dengan baik mampu menguatkan jati diri bangsa, dan juga dimanfaatkan untuk kepentingan pembangunan nasional, seperti pariwisata. Sebagai satu fenomena yang sangat kompleks, pariwisata dapat dipandang sebagai sistem yang melibatkan antara lain pelaku, proses penyelenggaraan, kebijakan, supply and demand, politik, sosial budaya. Semua itu saling berinteraksi dengan erat.
Pariwisata berkelanjutan pada awalnya muncul dari berbagai pertanyaan untuk mengembangkan pariwisata dalam suatu komunitas yang sekaligus melindungi segala aspek penting yang bisa menjadi daya tarik dalam lingkungan tersebut. Dengan pembangunan pariwisata yang bijaksana (smart tourism), aspek peningkatan kehidupan komunitas secara kualitas lebih didahulukan dibanding aspek ekonomi.
Salah satu bagian smart tourism yang giat dikembangkan adalah Pariwisata Budaya, selain Ekowisata. Mengapa dimulai saat ini? Karena keinginan setiap orang selalu berubah setiap saat. Begitu juga keinginan wisatawan dalam mengunjungi sebuah tempat. Tujuan utamanya jelas untuk memperoleh pengalaman unik yang bisa dilihat, dinikmati, dirasakan dan sekaligus dipelajari. Soal fasilitas, sarana atau pemandangan alam satu tempat dengan lainnya mungkin tidak jauh berbeda. Namun, sejarah dan budaya tiap-tiap daerah tentu tidak akan sama. Beberapa negara dan daerah telah menyadari kekuatan aspek ini sebagai daya tarik wisata.
Di satu sisi Pariwisata Budaya adalah perpaduan dua unsur—baik sebagai industri maupun sebagai sistem yang berkelanjutan—yang memberikan peluang bagi Indonesia. Artinya, pariwisata budaya dapat membangun upaya terpadu untuk mengembangkan kualitas hidup masyarakat. Caranya adalah dengan mengatur penyediaan, pengembangan, pemanfaatan dan pemiliharaan sumber daya budaya secara berkelanjutan.
Di sisi lain, kerancuan terminologi tidak diharapkan terjadi, terutama dari unsur budaya. Banyak orang bicara tentang kebudayaan, tetapi pengertian yang digunakannya belum tentu sama. Ada orang yang menyebut kebudayaan dengan mengacu pada hasil karya manusia yang indah-indah. Dengan kata lain, pengertian itu lebih menjurus pada istilah kesenian. Beberapa yang lain menggunakan istilah kebudayaan untuk menyatakan ciri-ciri yang tampak pada sekelompok anggota masyarakat tertentu sehingga dapat digunakan untuk membedakannya dari kelompok lain. Ada pula yang menggunakan istilah kebudayaan untuk menyatakan tingkat kemajuan teknologi yang didukung tradisi tertentu. Lalu, apakah istilah Kebudayaan yang dapat menjadi daya tarik pariwisata?
Kebudayaan merupakan hasil karya manusia dalam mempertahankan dan meningkatkan taraf hidup dan sebagai proses adaptasi dengan lingkungan. Sebagai sebuah sistem, kebudayaan perlu dilihat dari perwujudan kehidupan manusia yang terkait dengan ide, perilaku dan material.
Budaya manusia pada dasarnya memiliki ciri-ciri bawaan yang dapat dikelompokkan secara terstruktur, meliputi komponen living culture (sosial, ekonomi, politik, bahasa, religi, estetika dan mata pencaharian), wisdom and technology (mata pencaharian, kedamaian, kesenangan, bahasa, pendidikan, pengetahuan,dan teknologi), serta culture heritage (artifak, monumen, manuskrip, tradisi, dan seni).
Dalam mengembangkan pariwisata budaya Indonesia dalam era otonomi dan perubahan paradigma, beberapa hal utama perlu mendapat perhatian, yaitu keterpaduan penerapan antara prinsip Sustainable Development, Sustainable Tourism dan prinsip pengelolaan sumber daya budaya. Di samping itu, kita harus mampu menerjemahkan terminologi dan korelasi antara komponen budaya dan pariwisata dalam kerangka kesisteman.
Prinsip-prinsip yang menjadi dasar pengembangan pariwisata budaya harus berbasis masyarakat. Masyarakat harus dilibatkan pada seluruh kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pariwisata budaya. Kesadaran, apresiasi, dan kepedulian mereka terhadap perlindungan atas lingkungan kehidupan sosial budaya juga dibutuhkan.
Daya dukung lingkungan sosial dan budaya masyarakat khususnya masyarakat lokal terhadap dampak negatif pariwisata sangat diperlukan. Pendekatan pengelolaan pariwisata antara lain pada pembangunan sarana, tingkat kunjungan dan kegiatan wisatawan di sebuah daerah tujuan misalnya, harus memperhatikan batas-batas yang mampu diterima oleh lingkungan sosial dan budaya masyarakatnya.
Daya dukung pariwisata bukan merupakan angka absolut tapi sebuah rentang nilai yang berhubungan dengan tujuan pengelolaan di sebuah daerah tujuan yang bersifat unik di antaranya jenis kegiatan yang dapat dilakukan, kapan dilakukan, besaran dan komposisi kelompok, harapan pengunjung dan ciri tempat itu sendiri.
Pendidikan dan pelatihan yang sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat perlu dirumuskan secara efektif dan terpadu. Pentingnya peningkatkan kualitas stakeholder (pemerintah/pemerintah daerah, swasta, masyarakat termasuk wisatawan) melalui pendidikan dan latihan serta penelitian dan pengembangan pariwisata budaya secara terus-menerus merupakan keharusan.
Dalam hal ini, pendidikan dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman penyelenggaraan pariwisata budaya yang berkelanjutan dengan menanamkan kerangka pikir bahwa pengembangan pariwisata budaya tidak semata-mata untuk meningkatkan lapangan kerja, kesempatan usaha serta perolehan devisa. Ada yang yang lebih penting lagi, yaitu mewujudkan pengetahuan dan pemahaman terhadap aspek multikultural yang dapat memperkuat ketahanan dan kesatuan bangsa.
Promosi yang ditujukan untuk memperkenalkan, menyosialisasikan, dan mengampanyekan aspek konservasi, restorasi, rekonstruksi nilai-nilai budaya diharapkan dapat meningkatkan dan mewujudkan kesadaran, dan memperkaya informasi. Promosi semacam ini juga diharapkan bisa mengurangi benturan kepentingan antar-stakeholder terhadap prinsip multikultural dan berkelanjutan dalam pengembangan pariwisata budaya.
Pemantauan dan evaluasi diarahkan untuk mengawasi penyelenggaraan pariwisata budaya tetap mengacu pada prinsip yang ada serta dilaksanakan secara konsekuen dan konsisten. Penyelenggaraan pariwisata budaya bisa berhasil jika proses pemantauan dan evaluasi dilaksanakan oleh stakeholder dengan cara partisipatif yang melibatkan seluruh pihak. Pemantauan dan evaluasi juga harus dilakukan secara periodik pada setiap tingkatan implementasi, dilakukan secara periodik pada setiap tingkatan implementasi, serta menggunakan alat ukur penyelenggaraan pariwisata budaya yang meliputi kelestarian lingkungan sosial dan budaya, penguatan kondisi sosial-budaya dan peningkatan ekonomi masyarakat.
Penulis adalah peneliti di Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia

Sumber: Sinar Harapan.
 

1 Response to "Pariwisata Budaya, Mengapa Tidak Sekarang?"

negara kt kaya banget, daya dukungnya udh bgs, cuma banyak yang salah kaprah, lalu se’enae dewe mengeksploitasi. lum lg masyarakatnya yg nda mau peduli sm “jamrud” yg udh ada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

May 2007
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
%d bloggers like this: