Dieny & Yusuf

Mengenal Asal-muasal Nama Tempat di Cekungan Bandung (habis)

Posted on: May 3, 2007

Oleh T. BACTIARSitu Patenggang                                 

Pada tulisan sebelumnya disebutkan berbagai nama daerah di Cekungan Bandung yang berdasarkan pada keadaan daerah tersebut seperti situ yang menunjukkan daerah yang banyak mengandung air ataupun nama daerah yang diawali dengan bojong serta ranca.

Bandung heurin ku tangtung”
Bandung terus berkembang. Daya tarik
Bandung sebagai dayeuh impian yang dapat meniti puncak-puncak status sosial dan ekonomi terus menjadi impian banyak orang. Penduduk mulai berdatangan ke
Bandung, maka daerah yang asalnya berupa rawa-rawa itu mulai ditimbuni (disaeur), maka terbentuklah daerah yang bernama Situsaeur. Maklum masih berupa tanah urugan, bila terkena air jalanan masih licin (leueur) yang dapat menggelincirkan orang (tisoledat) yang melewatinya. Daerah itulah kemudian disebut Sukaleueur
Penduduk Bandung semakin padat dengan berdatangannya penduduk dari berbagai daerah. Hal ini tercermin dengan nama-nama tempat yang diawali dengan kata babakan, yang berarti permukiman baru di suatu daerah.
Ada dua kategori perumahan baru ini, yaitu namanya berdasarkan pada asal penduduk yang bermukim, atau berdasar pada nama tempat yang dijadikan permukiman baru tersebut.Yang berdasar pada nama tempat daerah tersebut atau nama orang yang merintis permukiman di
sana, seperti: Babakantalang, Babakanbiru, Babakancibeureum, Babakancihapit, Babakancijeungjing, Babakancikutra, Babakancilameta, Babakancinta, Babakancintawangi, Babakancintawargi, Babakancintawetan, Babakandago, Babakandangdeur dll.
Sedangkan yang berdasarkan pada asal penduduknya adalah: Babakanciamis, Babakantasikmalaya, Babakankertajaya, Babakanleles, Babakanparigi, Babakanbandung, Babakanbetawi. Ada juga permukiman baru yang tidak berdasarkan pada kriteria tersebut di atas, tapi cukup menamainya babakan saja, seperti: Babakan yang terletak di Cibaduyutkidul, Cibeureum, Cibiruhilir, Ciburial, Cihanjuangrahayu, Cihideung, Cijerah, Cikole, Cileunyiwetan, Cimenyan, Gempolsari, Kayuambon, Lagadar, Leuwigajah, Mekarmanik, Mekarwangi, Melong, Panadegan, Rancaekekkulon, Rancamanyar, Sangkanhurip, Sekarwangi, Utama, Warungmuncang, Cirangrang, dan di Sukapada.
Ada juga nama tempat yang didasarkan pada keahlian atau pekerjaannya yang dominan di masyarakatnya, seperti: Blokkupat, Blokpasantren, Blokpareman, Blokragaji, dan Bloktopi. Bisa juga berdasar pada keadaan lingkungannya, misalnya ada Blokjambu, Bloksakola, Bloksawah, Bloksinyar, Bloksitu, Bloksmp, dan Blokdesa.

Agroindustri

Penduduk Bandung yang kian padat dengan segala aktivitasnya memerlukan pendukung kehidupannya. Misalnya saja ketika di Cimahi dibangun pusat kavaleri berkuda oleh Belanda, maka dibutuhkan rumput dalam jumlah yang banyak untuk makanan kuda tersebut. Maka dibangunlah kebun rumput yang luas. Pembangunan kebun-kebun satu jenis tanaman yang luas terus tumbuh di
Bandung. Maka berkembanganlah agroindustri yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat
Bandung.
Kemudian penduduk menamai daerah itu: Kebonjukut, Kebonbibit, Keboncau, Keboncoklat, Kebongedang, Kebonhui, Kebonjati, Kebonjayanti, Kebonjeruk, Kebonkalapa, Kebonkangkung, Kebonkapas, Kebonkawung, dll. Bahkan bukan hanya berupa kebun, tetapi ada tanaman yang mendominasi suatu bukit, seperti terlihat dalam nama-nama tempat: Pasirhonje, Pasirhuni, Pasirjambu, Pasirjati, Pasirjeungjing, Pasirkadu, Pasirkaliki, Pasirkembang, Pasirkumeli, Pasirkunci, Pasirlame, Pasirmalaka, Pasirmalati, Pasirpaku, Pasirsalam, dan Pasirsereh.Masyarakat sesungguhnya sudah memiliki kebiasaan menanam satu jenis tanaman dalam lahan yang luas, yang biasa disebut talun. Pada umumnya yang ditanam adalah kelapa dan bambu, tercermin dari daerah yang diberi nama Talun, seperti yang terdapat di Jelegong dan Majalaya.

Indikator kerusakan lingkungan

Saat ini di Bandung banyak bermunculan berbagai macam kompleks permukiman, yang dibangun hampir di setiap pelosok di Cekungan
Bandung. Perkembangangan lingkungan hidup di Cekungan Bandung dapat diamati dari nama-nama tempat, lalu dibandingkan dengan keadaan lingkungan hidup saat ini.
Sebagai contoh, di Bandung banyak nama tempat yang diawali dengan kata seke, yang berarti sumber mata air atau cinyusu. Dulu,
Bandung pernah mengalami tata ekologi yang sangat baik, sehingga sumber mata air terdapat di kaki-kaki gunung atau bukit. Di dekat air seke atau cinyusu itu didirikan rumah yang kemudian berkembang menjadi perkampungan.
Bila air yang keluar sangat besar, atau ngaburial, maka nama tempatnya menjadi Ciburial. Di Bandung banyak nama tempat yang menggunakan kata ciburial, sebab disanalah air secara alami keluar dengan berlimpah ngaburial. Bila saat ini di tempat-tempat yang bernama Ciburial airnya tidak ngaburial lagi, atau bahkan sudah kering, ini artinya lingkungan di daerah tangkapan hujannya sudah lama rusak berat.Di dekat Gua Pawon ada nama Kampung Cinyusuan. Dulu, di kaki Gunung Masigit itu berjajar cinyusu atau sumber mata air. Maka kampung yang berada di utara sumber mata air itu disebut Kampung Cinyusuan. Kini, cinyusu atau sumber mata air itu sudah kering, kecuali satu di kaki utara Pasir Pawon. Ini membuktikan keadaan Gunung Masigit sudah sangat rusak tercabik-cabik penambangan batu kapur.Berbagai tumbuhan dan pohon yang kemudian menjadi nama kawasan di tempat tumbuhan atau pohon itu lebih dominan, atau menjadi ciri yang mandiri di suatu kawasan. Saat ini, tumbuhan dan pohon itu sudah menjadi langka, namun namanya masih dipakai sampai saat ini sebagai nama tempat, seperti: asem (Bojongasem), ater (Ciater), awi (Sekeawi, Bojongawi, Ciawigede, Ciawitali), baligo (Cibaligo), balingbing (Sekebalingbing), beunying (Cibeunying), bihbul (Bihbul), binong (Binong, Cipatatbinong), bintinu (Cibintinu), bingbin (Cibingbin), bisoro (Cibisoro), bolang (Bojongbolang, Rancabolang, Cibolang), bungur (Cibungur, Sekebungur, Rancabungur), bunut (Bunut), burahol (Ciburahol), cae (Puncakcae), calengka (Cicalengka).Nama tempat yang bersumber dari nama satwa yang hidup di Cekungan Bandung, misalnya: beberut (Beberut), badak (Rancabadak, Bojongbadak), bangbara (Cibangbara), bangkong (Cibangkong, Gadobangkong), bango (Rancabango), banteng (Cibanteng), bayawak (Rancabayawak), belut (Rancabelut), bogo (Cibogo, Rancabogo), buruy (Sekeburuy), ekek (Rancaekek), engang (Rancaengang), gagak (Cigagak), gajah (Gajah, Leuwihgajah,Keragamanhayati (biodiversity) di Cekungan Bandung semakin menyusut, terbukti dari tanaman, pohon beserta hewan yang dulu hidup secara alami di Cekungan Bandung, kini keadaannya sudah sangat menyusut, bahkan banyak nama tanaman, nama pohon, atau nama hewan yang sudah tidak dikenali lagi. Keadaan ini sebagai bukti yang nyata tentang kerusakan lingkungan hidup di Cekungan
Bandung.

Penutup

Karuhun kita, sudah memberi contoh yang baik tentang penamaan daerahnya. Tapi saat ini menamai tempat tanpa alasan yang jelas, dan sembarangan. Seharusnya menamai tempat itu sesuai dengan nama-nama tempat asli yang ada sebelumnya dan sesuai dengan geografis dan budaya masyarakatnya.Saat ini nama-nama tempat atau kompleks perumahan banyak yang terasa asing, walaupun memakai kata bunga atau taman. Berikut ini adalah contoh kata-kata yang banyak digunakan dalam memberikan nama kompleks perumahan: Bunga, Bakti, Bukit, Bumi, Endah, Estate, Garden, Graha, Griya, Indah, Istana, Kencana, Mas, Park, Permai, Permata, Raya, Regency, Resort, Sari, Taman, Villa, Walk.Memberi nama tempat itu sebenarnya ada aturannya. Jadi janganlah terlalu berambisi untuk merubah nama-nama tempat dengan nama-nama orang yang dianggap pahlawan atau berjasa, atau terlalu tinggi harapan masyarakatnya terhadap suatu kawasan, sehingga nama-nama tempat dirubah sesukanya, sesuai dengan impiannya.Merubah dan memberi nama tempat secara sembarangan, ini merupakan cerminan dari orang-orang yang tidak mengetahui karaktek alam daerahnya, serta tidak paham sosiokultural masyarakatnya, dan ahistoris!

Penulis, anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan
Bandung.
Sumber: Pikiran Rakyat, Senin, 29 Agustus 2005.

Artikel terkait: Bandung Purba

Temukan keelokan alam nan mempesona di:  http://dunia-indah.blogspot.com 

10 Responses to "Mengenal Asal-muasal Nama Tempat di Cekungan Bandung (habis)"

haduh bandung

cari jodoh nak sunda nic

yang lebih lengkap silahkan kunjungi: http://www.dieny-yusuf.com

thanks

Bandung makin padat dan keadaan alamnya semakin rusak pula. Pantasnya daerah kota Bandung dan sekitarnya dijadikan hutan lindung. Bandung sebagai ibukota dipindahkan ke Pamengpeuk, Cirebon atau Indramayu (Pantura) biar pantura jadi kota pantai sepanjang pulau jawa. Hindari perluasan kota ke daerah pegunungan. Pegunungan biarkan alami tidak dijamah manusia.

boleh minta tolong ga..? Saya perlu banget foto Bandung Utara. Berharap fotonya bisa menggambarkan bagaimana Bandung Utara telah berubah fungsi menjadi perumahan. Tolong banget ya..

Thx a bunch,
Etha

informasi yang berharga sekali,.thanx alot

Sentra Bunga Cihideung
Dari kota Bandung, bila hendak menuju Lembang, ada dua jalan utama yang dapat ditempuh. Pertama, melalui Jl. Dr. Setiabudi – Jl. Raya Lembang. Sementara jalur lainnya adalah melalui Jl. Sersan Bajuri. Jika melalui jalur ini, maka pemandangan hijau dan berwarna-warni dari deretan tanaman hias dan bunga menjadi teman sepanjang perjalanan. Itulah desa bunga Cihideung. Daerah ini terkenal sebagai pusat penjualan bunga di Kabupaten Bandung.
Bagi masyarakat Kecamatan Parongpong, sektor pertanian merupakan sektor yang paling diandalkan, jauh melebihi sektor pariwisata dan industri. Ini sangat berkaitan dengan suburnya tanah di daerah itu, sehingga sangat cocok untuk ditanami berbagai bunga dan tanaman.
Cihidueng, desa yang terletak di kecamatan Parongpong ini, yang dulunya hanya merupakan tempat bercocok tanam ala kadarnya saja, kini telah berkembang menjadi “Kawasan Wisata Bunga”. Kawasan ini memang tepat disebut sebagai kawasan wisata bunga, karena di sepanjang desa ini terlihat berbagai tanaman bunga yang dikembangbiakkan.

Berbagai jenis tanaman bunga bisa kita temui di desa Cihideung ini, dari tanaman hias hingga tanaman potong. Tanaman (bunga) hias biasanya adalah tanaman yang digunakan untuk memperindah taman, dan tanaman (bunga) potong biasanya adalah tanaman/ bunga yang diperlukan untuk keperluan dekorasi. Di desa Cihideung ini lebih dari 80% warga desa Cihideung menjadi petani bunga, dimana terdiri dari 30% petani bunga potong, dan 50% petani bunga hias.

waduh………… geuning bandung teh …………..

I love bandungggggggg….. miss uuu, i’ll come back soon

duh bandung echa jd kabita ply tngl d bndg………………..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

May 2007
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
%d bloggers like this: