Dieny & Yusuf

Mengenal Asal-muasal Nama Tempat di Cekungan Bandung (1)

Posted on: May 3, 2007

Oleh T. BACTIAR

Situ LembangSETIAP akhir pekan pergi memancing di rung. Berangkat pagi hari bersama sopir menuju empang-empang. Sebagai umpannya, kami menggunakan oncom untuk memancing ikan mas, ikan yang dapat dimasak lezat dengan berbagai cara, antara lain dengan cara dipepes, salah satu masakan Sunda. Ikannya besar-besar, dari kepala sampai ekor mencapai 40 cm dengan aneka warna. Juga ada ikan gurame, yang banyak durinya , tapi enak dimakan dengan bumbu jahe, makanan khas Cina.Demikian pengalaman Pans Schomper seperti yang ditulis dalam bukunya yang berjudul Selamat Tinggal Hindia: Janjinya Pedagang Telur (1996). Pans adalah anak dari pemilik Hotel Schomper di Batavia (Jln. Menteng 31). Hotel itu sejak tahun 1974 dijadikan Museum Gedung Joang ’45, dan pemilik Hotel di Bandung yang sekarang nama hotelnya diganti menjadi New Naripan Hotel. Ia menceritakan pengalamannya saat remaja di rawa-rawa
Bandung, bagaimana serunya memancing gurame dengan umpan orong-orong.
Cekungan Bandung yang semula berupa danau purba yang sangat luas, yang surut di Curug Jompong dan di antara Pasir Larang dan Pasir Kiara sejak 16.000 tahun yang lalu itu ternyata tidak sekaligus kering. Pans Schomper yang pernah hidup begitu penuh warna di
Bandung menceritakan masa kecilnya memancing di Ujungberung. Dalam catatan Pans, sampai tahun 1930-an, di Bandung masih banyak terdapat rawa dan empang. Bahkan sampai saat ini, di selatan
Bandung masih terdapat kolam (balong) yang luas.

Ciri wilayah Berair

Di seputar wilayah bekas Danau Bandung purba, mulai dari Cicalengka di timur sampai Rajamandala di barat, dari Dago di utara hingga Majalaya, Banjaran di selatan, banyak sekali ditemukan nama tempat yang mempunyai ciri bumi sebagai wilayah berair, atau mempunyai kaitan yang sangat erat dengan air di sekelilingnya. Situ (bahasa Sunda), misalnya, berarti danau dalam bahasa
Indonesia, ranca, empang, berarti rawa. Bojong mempunyai arti yang sama dengan tanjung, yaitu bagian daratan yang menjorok ke air. Sedangkan teluk, bagian air yang menjorok ke daratan.
Nama-nama tempat yang tertulis di bawah ini bersumber dari berbagai peta, dua di antaranya adalah peta topografi buatan AMS (Amerika Serikat) dan peta Rupa bumi buatan Bakorsultanal (
Indonesia). Bila diadakan studi lapangan secara cermat ke setiap desa, dapat dipastikan masih banyak nama tempat yang menggunakan kata ranca, bojong, atau tanjung yang tidak tercatat dalam peta rupa bumi yang diamati.
Berikut ini adalah rincian nama-nama tempat tersebut. Daerah yang memakai nama situ ada 18 tempat, yaitu: Situ, Babakansitu, Bloksitu, Cisitu, Situaksan, Situaras, Situbolang, Situciparay, Situdarma, Situemuh, Situgede, Situgunting, Situhiang, Situsaeur, Situsari, Situtarate, Situtengah, Situwangi.
Ada 15 daerah yang memakai kata tanjung, yaitu: Tanjung, Babakantanjung, Bojongtanjung, Curugtanjung, Nanjung, Rancatanjung, Tanjungjaya, Tanjungkerta, Tanjunglaksana, Tanjunglaya, Tanjungpura, Tanjungraya, Tanjungsari, Tanjungwangi, Karangtanjung. Sedangkan daerah yang memakai kata ranca ada 97 tempat, yaitu: Ranca, Rancabadak, Rancabali, Rancabango, Rancabaraya, Rancabatok, Rancabatuk, Rancabawang, Rancabayawak, Rancabelut, Rancabentang, Rancabeureum, Rancabiuk, Rancabogo, Rancabolang, Rancabulan, Rancabungur, Rancabuntu, Rancacagak, Rancacangkuang, Rancacatang, Rancacenang, Rancacili, Rancaekek, Rancaendah, Rancaengan, Rancaeunteung, Rancagarut, Rancagede, Rancagempol, Rancagirang, Rancagoong, Rancaherang, Rancaheulang, Rancailat, Rancajigang, Rancakalong, Rancakamuning, Rancakandang, Rancakasa, Rancakasiat, Rancakaso, Rancakasumba, Rancakembang, Rancakemit, Rancakendal, Rancaketan, Rancakihiang, Rancakole, Rancakondang, Rancakuluwung, Rancakuya, Rancalame, Rancaloa, Rancalonggong, Rancamalaka, Rancamalang, Rancamanuk, Rancamanyar, Rancamekar, Rancamelong, Rancameong, Rancamidin, Rancamoyan, Rancamulya, Rancanangkub, Rancanata, Rancanilem, Rancanumpang, Rancanyiruan, Rancaoray, Rancapacing, Rancapanjang, Rancapelem, Rancapeuteuy, Rancaputung, Rancarayud, Rancasaat, Rancasabir, Rancasadang, Rancasagatan, Rancasari, Rancasawo, Rancaselang, Rancasenggang, Rancasepat, Rancatanjung, Rancatawu, Rancatengah, Rancatiis, Rancatungku, Rancatunjung, Rancawaas, Rancawali, Rancawaliwis, Rancawangi, Rancawaru. Nama tempat yang memakai kata bojong ada 79 tempat, seperti: Bojong, Bobojong, Bojongasem, Bojongasih, Bojongawi, Bojongbabakan, Bojongbadak, Bojongbaraya, Bojongbecik, Bojongbolang, Bojongbuah, Bojongbubu, Bojongbungur, Bojongcibodas, Bojongcijerah, Bojongcitepus, Bojongemas, Bojongeureun, Bojonggalatik, Bojonggaok, Bojonggede, Bojonggempol, Bojonghaleuang, Bojonghaur, Bojongjambu, Bojongjati, Bojongjaya, Bojongjengkol, Bojongkacer, Bojongkalapa, Bojongkalong, Bojongkasiat, Bojongkasur, Bojongkawung, Bojongkihiang, Bojongkoang, Bojongkondang, Bojongkoneng, Bojongkukun, Bojongkulon, Bojongkunci, Bojonglaja, Bojonglandeuh, Bojongloa, Bojongmalaka, Bojongmalati, Bojongmanggu, Bojongmanjah, Bojongmanyar, Bojongmekar, Bojongmenje, Bojongmonyet, Bojongmulyasari, Bojongmuncang, Bojongnangka, Bojongpacing, Bojongpari, Bojongpeundeuy, Bojongpeuteuy, Bojongpulus, Bojongrangkas, Bojongrengas, Bojongreungit, Bojongsalak, Bojongsalam, Bojongsari, Bojongsayang, Bojongsempur, Bojongsereh, Bojongsero, Bojongseureuh, Bojongsoang, Bojongsuren, Bojongtahu, Bojongtanjung, Bojongtepus, Bojongwaru, Cibojong, Pasirbojongkidul.Ada beberapa nama tempat yang menandakan ciri bumi daerah berair, namun penggunaannya hanya sedikit, seperti: empang (Empangbagus, Empangsari, Empangpojok), babantar/bantar (Bantargebang, Bantarsari), beber (Cibeber), bugel (Bugel), rawa (Rawapojok, Rawatengah), dano (Dano, Babakandano), lengkong (Lengkong), leuwi (Leuwipanjang, Leuwimuncang, Leuwigoong, Leuwidulang, Leuwinutug, Leuwigajah, Leuwimelang), muara (Muara, Muararajeun), parakan (Parakanmuncang, Parakansaat), parung (Parungserab), talaga (Citalaga), tanggeung (Tanggeung), atau teluk (Telukbuyung), legok (Legokbadak, Legokemok, Legokhayam, Legokpicung, Legokloa). Air yang tertampung di ranca-ranca itu mempunyai manfaat ekologis dan ekonomis. Air danau itu dapat mendinginkan suatu kawasan. Sengatan matahari dapat dilunakkan, sehingga hawanya menjadi sejuk. Dengan menghilangnya rawa-rawa di Cekungan
Bandung, hawa di kawasan ini akan semakin panas, apalagi daerah terbangun semakin luas, kendaraan bermotor semakin banyak, tanpa dibarengi dengan penghijauan kawasan dengang sungguh-sungguh.


Bandung heurin ku tangtung”

Bandung terus berkembang. Daya tarik
Bandung sebagai dayeuh impian yang dapat meniti puncak-puncak status sosial dan ekonomi terus menjadi impian banyak orang. Penduduk mulai berdatangan ke
Bandung, maka daerah yang asalnya berupa rawa-rawa itu mulai ditimbuni (disaeur), maka terbentuklah daerah yang bernama Situsaeur. Maklum masih berupa tanah urukan, bila terkena air jalanan masih licin (leueur) yang dapat menggelincirkan orang (tisoledat) yang melewatinya. Daerah itulah kemudian disebut Sukaleueur dan Soledat. Lahan-lahan yang baru dibuka disebut bebedahan (Bebedahan) menjadi persawahan (Pasawahan, Lembursawah), atau kolam (Balonggede).
Penduduk Bandung semakin padat dengan berdatangannya penduduk dari berbagai daerah. Hal ini tercermin dengan nama-nama tempat yang diawali dengan kata babakan, yang berarti permukiman baru di suatu daerah.
Ada dua kategori perumahan baru ini, yaitu namanya berdasarkan pada asal penduduk yang bermukim, atau berdasar pada nama tempat yang dijadikan permukiman baru tersebut.Yang berdasar pada nama tempat daerah tersebut atau nama orang yang merintis permukiman di sana, seperti: Babakantalang, Babakanbiru, Babakancibeureum, Babakancihapit, Babakancijeungjing, Babakancikutra, Babakancilameta, Babakancinta, Babakancintawangi, Babakancintawargi, Babakancintawetan, Babakandago, Babakandangdeur, Babakandano, Babakandenki, Babakandunguslembu, Babakanemoh, Babakangandok, Babakanharja, Babakaninpres, Babakanirigasi, Babakanjati, Babakanjeruk, Babakankarees, Babakankaret, Babakankatapang, Babakankembang, Babakankinim, Babakanlaksana, Babakanleunca, Babakanleuwinutug, Babakanloa, Babakanlungsir, Babakanmanggaraja, Babakanmuncang, Babakanmuslimin, Babakannangsi, Babakannanjung, Babakannengkelan, Babakanpamekong, Babakanpari, Babakanpasantren, Babakanpasirangin, Babakanpatrol.

Artikel Selanjutnya Klik: Mengenal asal-muasal Nama Tempat di Cekungan Bandung Bagian 2 (Habis)

Sumber: Pikiran Rakyat, Senin, 22 Agustus 2005.

Temukan keelokan alam nan mempesona di : http://dunia-indah.blogspot.com

 

2 Responses to "Mengenal Asal-muasal Nama Tempat di Cekungan Bandung (1)"

heuheu seer ranca nya kang😀 palaur ah

hidup rancakole/ cidodol ah

kang pami tiasa sejarah rancaeunteung kumaha cenah?,nuhun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

May 2007
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
%d bloggers like this: