Dieny & Yusuf

Menikmati Keasrian Situ Lembang

Posted on: April 17, 2007

Oleh DICKY RISYANA  

SELAMA ini kawasan Situ Lembang lebih dikenal sebagai ajang latihan kelompok pencinta alam, serta kawah candradimuka bagi anggota Kopassus TNI saja. Meski demikian, wisatawan pun bisa mengunjungi objek wisata alam yang berada di kawasan Bandung Utara ini.

Tetapi keinginan menikmati keasrian Situ Lembang tak mudah terwujud. Hal ini disebabkan buruknya akses jalan. Jalanan utama yang sempit dipenuhi bebatuan tajam. Bahkan di musim penghujan beberapa bagian jalan berubah jadi kubangan lumpur. Akibatnya untuk mencapai Situ Lembang tak bisa memakai kendaraan biasa. Demi keamanan dan kenyamanan, diperlukan kendaraan khusus semacam mobil off-road atau motor trail.

Namun di balik buruknya akses jalan, ada berkah tersembunyi yang patut disyukuri. Disengaja atau tidak, buruknya akses jalan terbukti mampu melindungi kelestarian Situ Lembang dari jamahan tangan manusia serakah. Nyatanya, sampai saat ini keanekaragaman hayati di kawasan objek wisata alam ini tetap terjaga keutuhannya.

Situ Lembang tepat berada di dasar lembah yang menghubungkan Gunung Tangkubanparahu dan Gunung Burangrang. Para pengunjung yang hendak mengunjungi situ tersebut bisa datang dari dua arah perjalanan yang berlainan, yaitu Cisarua-Cimahi dan Parongpong-Lembang.

Pengunjung bisa juga naik ojek dan angkutan umum dari dua jalur perjalanan tadi.

”Hiking”Situ Lembang

Salah satu cara yang menyenangkan untuk mengunjungi Situ Lembang adalah berjalan kaki atau istilah kerennya hiking.

Mula-mula pengunjung disuguhi jalanan aspal mulus yang membelah permukiman penduduk. Selanjutnya lapisan aspal kian menipis dan berganti batuan bercampur kerikil. Medan perjalanan pun semakin menanjak dan mulai menguji ketahanan fisik.

Jalanan memang terasa berat, namun saat sampai di titik ketinggian pemandangan alam kian mempesona. Di kejauhan tampak hamparan rumah-rumah, ladang, dan perbukitan yang mulai gundul.

Selepas warung bambu dan pos penjagaan yang rusak, suasana perjalanan pun berganti. Pohon-pohon cemara gunung berjejer rapi seolah memagari tepian jalan. Pemandangan pun didominasi jalanan berbatu, langit biru dan rimbunnya hutan belantara.

Selanjutnya para pengujung bisa memilih rute perjalanan, tetap menyusuri jalanan utama atau beralih dengan memotong kompas melalui jalan setapak di pinggiran hutan cemara yang teduh.

Sepanjang perjalanan kesenyapan lebih sering menyertai. Keteduhan pepohonan, tiupan angin, dan suara gesekan dedaunan mampu membangun suasana damai. Hanya sesekali kita akan berpapasan dengan penggemar sepeda gunung, off-roader dan pendaki gunung yang hendak pulang.

Di tengah-tengah perjalanan, ada beberapa warung sederhana yang bisa dijadikan tempat beristirahat. Di sekitarnya terdapat ladang sayuran yang hasil panennya diangkut ke kota menggunakan mobil bak terbuka. Bagi yang membutuhkan, tersedia pula WC umum alakadarnya.

Ketika mengunjungi Situ Lembang beberapa waktu lalu, penulis beruntung bisa melihat elang jawa yang hampir punah. Saat itu, sang elang sedang melayang-layang di angkasa dengan sayapnya yang lebar. Matanya menatap tajam ke bawah seolah hendak menyergap mangsa. Lantas dalam sekejap elang itu menukik tajam dan hilang di kerimbunan hutan yang masih perawan.

Menjelang lokasi Situ Lembang, terlihatlah puncak Gunung Tangkubanparahu yang ditandai tiang pemancar. Di seberangnya ada hutan Gunung Burangrang yang sering digunakan latihan survival karena memiliki tanaman dan hewan liar yang bisa dimakan untuk sekadar bertahan hidup.

Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan selama 2-3 jam, sampailah di Situ Lembang. Tepiannya telah dibendung dengan benteng beton. Dilengkapi pintu air untuk mengontrol volume air yang mengalir ke sungai. Terlihat pula bangunan bedeng yang digunakan sebagai base-camp pelatihan Kopassus TNI.

Keasrian Situ Lembang sebagai kawasan yang dilindungi terasa kuat. Di sekeliling Situ yang airnya berwarna hijau lumut ini, terdapat hutan belantara yang masih jarang disentuh manusia. Itulah kelebihan Situ Lembang, bila dibandingkan dengan objek wisata alam lainnya.

Di akhir pekan dan musim liburan, suasana di sekitar Situ Lembang bisa dikatakan cukup semarak. Apalagi bila ada kegiatan pelatihan outbound. Rerumputan hijau di pinggiran danau dimanfaatkan sebagai parkiran motor, mobil off-road dan sepeda gunung.

Beberapa kelompok pencinta alam tampak berkemah dengan mendirikan tenda secara berpencar. Terkadang terdengar jeritan, tawa, dan nyanyian sumbang dari sekumpulan kaum muda itu. Sementara di tepian danau, sebuah keluarga tengah asyik bermain dan mendayung perahu karet kecil.

Yang pasti, sebagian besar pengunjung lainnya lebih senang menghabiskan waktu dengan melemparkan kail pancing ke tengah situ. Meskipun hanya memperoleh ikan mas atau nila seukuran tiga jari tangan, namun ada kepuasan terpancar dari wajah mereka.***

Sumber: Pikiran Rakyat, Sabtu, 26 Februari 2005.

Temukan keelokan alam nan mempesona di : http://dunia-indah.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

April 2007
M T W T F S S
« Mar   May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
%d bloggers like this: