Dieny & Yusuf

Kota Bandung Sebagai ”Waterfront City”?

Posted on: April 7, 2007

Oleh HADI SUCAHYONO 

KONSEP penataan kota sebagai waterfront city bisa mencakup kota-kota yang berlokasi di tepi pantai maupun kota-kota di tepi sungai. Banyak kota di dunia yang telah berhasil dikembangkan dengan konsep waterfront city. Minimal, ada dua kota internasional yang berlokasi di tepi sungai dan patut dijadikan acuan contoh perbandingan untuk Kota Bandung, yaitu Kota Kuching di negara bagian Sarawak, Malaysia, dan Kota San Antonio di negara bagian Texas, Amerika Serikat.

Kota Kuching di Malaysia yang jaraknya sekira 7 jam berkendaraan mobil dari Kota Pontianak (Kalimantan Barat) pantas dijadikan contoh acuan waterfront city karena punya iklim dan kondisi fisik yang mirip dengan Kota Bandung. Kawasan pusat Kota Kuching dilintasi Sungai Sarawak dan kota ini menjadi waterfront city yang dapat memadukan keseimbangan penataan kawasan komersial (perdagangan dan jasa) dengan kawasan permukiman penduduk. Jalur pejalan kaki (pedestrian path) di kawasan waterfront city di Kuching ini juga ditata rapi dan asri dengan dukungan taman-taman bunga.

Selain itu, di sepanjang kawasan waterfront city ini juga terdapat hotel, pertokoan, restoran, dan bahkan tempat beribadah. Kesan sebagai kota modern bernuansa tradisional bisa terasa juga di Kota Kuching ini, seperti tercermin dari pertokoan modern (shopping mall) yang bisa berdampingan dengan pasar tradisional. Menariknya lagi, walaupun air Sungai Sarawak tidak terlalu jernih, sungai yang melintas di kawasan waterfront city Kuching ini bisa bersih dari sampah.

Sementara itu, Kota San Antonio di Texas juga patut dijadikan contoh acuan karena berhasil dikembangkan sebagai waterfront city modern yang dapat mempertahankan bangunan bersejarah dan dapat menonjolkan nuansa kesenian dan budaya setempat. Kawasan waterfront city di pusat kota ini yang terkenal dengan sebutan Riverwalk (Paseo Del Rio) dilengkapi teater alam terbuka di tepi sungai.

Selain itu, penataan kawasan waterfront city San Antonio juga dapat mempertahankan konservasi bangunan bersejarah (La Villita). Penataan kawasan pusat Kota San Antonio sebagai waterfront city seperti ini terbukti menjadi daya tarik utama wisatawan untuk berkunjung ke kota tersebut. Bahkan, kawasan Riverwalk ini sudah menjadi penyedot utama daya tarik wisatawan yang berkunjung ke negara bagian Texas. Para wisatawan di Kota San Antonio pada umumnya sangat menikmati perjalanan wisata dengan perahu (boat cruise) selama sekira 1 jam menyusuri sungai di kota yang juga terkenal dengan tim bola basketnya ini.

Wisata perahu ini relatif tidak terlalu mahal, tarifnya rata-rata 3 dolar untuk perjalanan sejauh 6 kilometer. Selain terasa sejuk dan asri, di kawasan Riverwalk sepanjang sungai ini juga terdapat banyak rumah makan yang menyajikan berbagai menu dari mancanegara. Bahkan, sebagian di antaranya juga menyajikan aneka pertunjukan musik yang menjadikan para wisatawan dari segala usia bisa betah menikmati suasana kawasan ini.

Bagaimana dengan Kota Bandung? Kota Bandung yang dilintasi Sungai Cikapundung sebenarnya juga sangat berpotensi untuk ditata sebagai waterfront city. Khususnya kawasan di sepanjang Sungai Cikapundung dari arah Babakan Siliwangi hingga kawasan Jalan Asia Afrika di pusat Kota Bandung sangat cocok untuk ditata dengan konsep waterfront city.

Banyak manfaat yang bisa diperoleh bila Kota Bandung bisa ditata sebagai waterfront city. Manfaat utama adalah untuk mengatasi kekumuhan di kawasan sepanjang Sungai Cikapundung, yaitu melalui penataan bangunan dan peremajaan kawasan sepanjang sungai ini (urban renewal). Namun, memang dalam melaksanakan penataan bangunan dan peremajaan kawasan untuk waterfront city ini perlu dilakukan secara bertahap dan berhati-hati, mengingat kawasan sepanjang Sungai Cikapundung merupakan salah satu kawasan terpadat penduduknya di Bandung.

Upaya penataan ini juga bisa dilaksanakan melalui prinsip community based development yang memberikan kesempatan masyarakat setempat untuk ikut berperan mewujudkan waterfront city ini. Dalam hal ini, Pemerintah Kota Bandung bisa memberikan bantuan dana insentif khusus ataupun pinjaman dana lunak (soft loan) kepada pemilik bangunan dan pemilik usaha perdagangan dan jasa di sekitar kawasan tersebut agar ikut memperbaiki kualitas lingkungannya.

Manfaat kedua adalah untuk pengendalian kualitas air Sungai Cikapundung dan juga pengendalian banjir. Sebagaimana dimaklumi, Sungai Cika-pundung merupakan salah satu andalan Kota Bandung sebagai sumber air minum sehingga kualitas air sungai ini perlu dijaga agar tidak semakin tercemar oleh limbah dan sampah. Dalam hal ini, Pemerintah Kota Bandung perlu meningkatkan kualitas manajemen persampahan di sepanjang kawasan Sungai Cikapundung. Di antaranya dengan memperbanyak kotak tempat pembuangan sampah (trash can) dan membersihkan sungai secara rutin. Model pembersihan sungai di Kota Kuching yang menggunakan jaring pengeruk sampah dengan ditarik perahu pembersih sampah setiap hari bisa dijadikan contoh acuan.

Manfaat ketiga adalah menjadikan kawasan Sungai Cikapundung dan sekitarnya sebagai kawasan objek wisata terpadu. Sebagaimana diketahui, di kawasan sepanjang Sungai Cikapundung ini terdapat berbagai objek yang menjadi daya tarik wisatawan, misalnya kebun binatang Taman Sari, sentra garmen di Cihampelas, kampus perguruan tinggi, sentra pasar bunga, dan bangunan bersejarah seperti Museum Asia Afrika.

Jadi, potensi wisata ini bisa ditonjolkan secara terpadu dalam jalur perjalanan wisata dengan perahu (boat cruise) di kawasan sepanjang Sungai Cikapundung. Kawasan objek wisata terpadu ini juga sekaligus bisa dimanfaatkan untuk mempromosikan kesenian dan budaya Jawa Barat, yaitu dengan menyediakan sentra kesenian di tepi sungai yang dapat menyajikan pertunjukan tarian dan musik tradisional. Para pemusik jalanan pun bisa ditampung di kawasan objek wisata terpadu ini.

Pada akhirnya, selain akan memperindah Kota Bandung, penataan kawasan waterfront city di tepi Sungai Cikapundung juga bermanfaat untuk menggairahkan perekonomian masyarakat, dunia usaha dan, meningkatkan pendapatan daerah. Jadi, kapan Kota Bandung akan ditata untuk menjadi waterfront city? ***

Penulis adalah alumni ITB, sedang melakukan riset di Amerika Serikat.*

Sumber: Pikiran Rakyat, Rabu, 9 Juli 2003.

3 Responses to "Kota Bandung Sebagai ”Waterfront City”?"

Wah saya terima kasih banget tentang tulisan anda ini… kami jadi terinspirasi dan demikian pula nara sumber saya yang saya wawancarai

bantu saya mewujudkannya02291806435

bantu untuk mencoba mewujudkannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

April 2007
M T W T F S S
« Mar   May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
%d bloggers like this: