Dieny & Yusuf

Gedung PBB Jadi Wisata Kota

Posted on: April 7, 2007

Oleh H. HILMAN PURAKUSUMAHKEPARIWISATAAN internasional menyebut, jumlah kunjungan antarnegara sebenarnya merupakan arus antarkota yaitu pintu gerbang masuk dan pintu gerbang keluar. Secara umum, wisatawan melewatkan waktu di kota yang menjadi pintu gerbang tersebut, sebelum melanjutkan perjalanan wisata ke tempat lain di negara tujuan. Dalam perjalanan ke objek wisata, biasanya kota-kota besar menjadi tempat persinggahan.

Pada awal abad ke-20, kota-kota di Eropa Barat dan Amerika Utara tumbuh dengan pesat sejalan dengan arus urbanisasi yang didorong oleh proses industrialisasi, tetapi sejak kurang lebih empat dekade terakhir, pertumbuhan tersebut lebih dipengaruhi oleh tumbuhnya industri pariwisata.

Pertumbuhan itu dipengaruhi industri pariwisata yang telah menjadi salah satu sumber pendapatan negara yang sangat menjanjikan. Sebut saja Kota New York, London, Paris dan Los Angeles yang mengandalkan wisata perkotaannya sebagai penghasil devisa.

Wisata perkotaan atau urban tourism merupakan salah satu bentuk wisata yang memanfaatkan fasilitas perkotaan yang memberikan suatu pengalaman bagi wisatawan karena atribut yang dimiliki kota tersebut seperti :

* Peninggalan sejarah berupa bangunan dengan arsitektur yang khas, museum, gedung pemerintahan dan swasta, gedung bekas hunian orang terkenal dalam sejarah dan sebagainya.

* Lokasi dan posisi geografis yang menarik seperti kota pantai dengan waterfront-nya, kota sungai dengan riverfront-nya atau kota pegunungan dengan hill top view-nya.

* Pusat perbelanjaan, tempat makan dan hiburan dengan berbagai gaya dan selera yang memberikan kesan prestisius bagi yang mencari identitas.

* Tempat berlangsungnya peristiwa menarik seperti peristiwa olahraga, seni dan budaya, konferensi ilmiah dan lainnya.

Perjalanan penulis kali ini, menikmati wisata perkotaan (urban Tourism) di New York, antara lain the United Nations Buildings, the Empire State Building, the Statue of Liberty, Rockefeller Center, CNN Tower, Trump Tower, Lincoln Center, Guggenheim Museum, Brooklyn Bridge, Museum of Modern Art (MoMA) dan lain sebagainya.

Kota New York yang merupakan salah kota terbesar di dunia dan kota yang tidak pernah “tidur” dari denyut nadi kehidupan selama 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu dan 365 hari dalam setahun.

Kota New York sangat terbuka bagi para wisatawan dengan tersedianya tiga pintu gerbang utama yang menggunakan sarana transportasi udara yaitu JFK, La Guardia, dan Newark International Airport.

Sedangkan bagi para pengguna transportasi darat, tersedia beberapa stasiun besar seperti Penn Station, Grand Central Terminal dan Port Authority Terminal.

Sangat menarik bahwa dari icon urban tourism tersebut, banyak di antaranya yang merupakan gedung perkantoran, dan salah satu yang paling menarik adalah Gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa yang tidak saja mewakili simbol Kota New York, tetapi juga sebagai simbol persahabatan dunia.

Ketika mengunjungi kompleks gedung PBB ini, penulis tidak menemui kesulitan, dengan menggunakan kereta bawah tanah menuju Grand Central Station, dan dengan sedikit berjalan kaki dari 42nd Street ke First Avenue, penulis sudah dapat mencapai kompleks gedung PBB. Transportasi umum lainnya yang memudahkan untuk mengunjungi komplek gedung PBB adalah bus kota, dan taksi.

Kompleks gedung PBB ini terbuka bagi umum sepanjang tahun kecuali pada akhir minggu bulan Januari dan Februari. Dengan membayar $12, penulis dapat berkeliling dan memasuki gedung-gedung di kompleks PBB ini selama kurang lebih satu jam dipandu oleh pemandu wisata dengan berbagai macam bahasa.

Merogoh kocek seharga $ 12 AS untuk tiket masuk, terasa sangat wajar dibandingkan dengan pengalaman mengunjungi gedung yang setiap tahunnya didatangi para pemimpin dunia untuk bertemu mendiskusikan berbagai isu-isu dunia dan mengambil keputusan penting.

Setiap tahun hampir satu juta wisatawan mengunjungi kompleks gedung PBB ini. Memasuki gedung PBB, penulis harus melalui pintu pengamanan yang berlapis dan ekstra ketat. Semua perlengkapan yang menempel di badan dan perlengkapan lainnya yang penulis bawa diperiksa dengan teliti.

Didampingi pemandu yang sangat fasih dan profesional, semua fasilitas yang ada dijelaskan secara detail, bahkan pertanyaan-pertanyaan pengunjung pun dapat mereka jawab dengan lugas dan dengan gaya yang khas.

Kompleks Gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa terletak di bagian timur Manhattan menghadap ke East River, dan terdiri dari empat bangunan utama yaitu the General Assembly building, the Conference building, the 39 floor Secretariat building dan the Dag Hammarskjold Library yang baru dibangun pada tahun 1961.

Sejarah singkatnya, kompleks tersebut dibangun pada tahun 1949 sampai dengan tahun 1950, di atas tanah seluas 18 acre (7,284 ha). Lahan yang dipergunakan untuk kawasan gedung PBB ini dibeli dengan harga 8,5 juta dolar AS, donasi dari John D. Rockefeller, Jr.

Pembangunan gedung-gedung tersebut dirancang oleh Multinational Team, yang terdiri dari 11 arsitek dari berbagai negara yaitu Rusia, Belgia, Kanada, Prancis, Cina, Swedia, Brasil, Inggris, Australia dan Uruguay. Dipimpin Wallace K. Harrison (AS). Dari sekira 50 desain, akhirnya dipilih rancangan dari arsitek Prancis Le Corbusier’s yang dikenal dengan “scheme 23A”.

Kompleks gedung PBB, memiliki status khusus seperti kedutaan besar, di mana para diplomatnya memiliki kekebalan hukum dan tidak dapat diadili oleh pengadilan setempat kecuali atas persetujuan Sekretaris Jenderal.

Selain kompleks gedung PBB, merupakan zona internasional dan milik seluruh negara anggota PBB. Kompleks gedung PBB ini memiliki pasukan pengaman, pasukan pemadam kebakaran, dan kantor pos tersendiri.

Kedigdayaan kompleks gedung PBB ini tidak saja menarik bagi penulis dan para pengunjung lainnya. Pemandu wisata menjelaskan bahwa para produser film terkenal banyak memanfaatkan pesona gedung PBB sebagai bagian dari film yang mereka buat, seperti film “The Art of War” yang dibintangi Wesley Snipes, Donald Sutherland, dan Anne Archer; film “The Peacemaker” yang bercerita tentang penghancuran gedung PBB oleh teroris.

Sementara itu, film “The Interpreter” yang disutradarai Sydney Pollack dan dibintangi Sean Pean dan Nicole Kidman, merupakan film pertama yang mengambil lokasi shooting di dalam gedung General Assembly dan Security Council.

Ketika mengikuti tur, penulis memanfaatkan waktu untuk berfoto di galeri footo Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan dan mantan Sekretaris Jenderal lainnya seperti Boutros-Boutros Gali, Javier Perez de Cuellar, Kurt Waldheim, U-nu, Dag Hammarskjold.

Di akhir kunjungan, penulis tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mengirimkan kartu pos kepada para kerabat di Indonesia dengan stempel pos khusus PBB yang hanya bisa didapat di kantor pos PBB.

Selain itu, penulis juga menyempatkan diri membuat photo stamp PBB. Ketersediaan fasilitas kantor pos, photo stamp serta souvenir shop di kompleks gedung PBB ini sangat menarik, karena tidak saja memberikan kesempatan bagi para pengunjung untuk memiliki benda-benda memorabilia, namun juga efektif sebagai pencetak uang.

Hal ini merupakan strategi yang dapat dicontoh oleh pengelola wisata perkotaan di Indonesia. Mungkinkah wisata perkotaan (urban tourism) di Indonesia, bisa berkembang dengan memanfaatkan gedung bersejarah ataupun gedung lainnya seperti gedung pemerintahan atau swasta?

Penulis, penikmat wisata.***

Sumber: Pikiran Rakyat, Jumat, 10 Nopember 2006.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

April 2007
M T W T F S S
« Mar   May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
%d bloggers like this: