Dieny & Yusuf

Kenyamanan “Broadway” di Ciwalk

Posted on: March 10, 2007

Pertama kaki melangkah masuk ke Ciwalk, kita akan disambut pohon besar yang menjulang tinggi dengan dahan dan cabang yang menjalar layaknya atap memayungi tanah lapang.Ciwalk Uliran-uliran tanaman rambat di pohon besar itu menambah kesan alam yang asri kala makin jauh masuk ke Ciwalk. Hamparan taman-taman kecil serta deretan pohon berbaris rapi, dari gerbang menuju ke bangunan utama pusat perbelanjaan Ciwalk.

Ada pohon beringin, mangga, hingga jajaran pinus yang menjulang tinggi, lebih dari tujuh meter. Embusan angin semilir sejuk membuat rambut dua gadis yang sedang duduk dan bercakap di bangku taman itu tergerai.

Di sudut lainnya, duduk tiga orang yang tampaknya bersahabat di bawah sebuah payung tenda, menikmati es krim kala matahari bersinar terik di atas awan-awan putih yang bertabur di birunya langit. Ada juga sepasang kekasih yang duduk berdua menikmati hidangan donat di kafe teras yang digelar J.CO Donuts.

Itu adalah sepenggal suasana yang bisa kita nikmati di Cihampelas Walk, atau yang lebih akrab dikenal dengan Ciwalk. Sebuah pusat perbelanjaan yang menawarkan lingkungan nyaman dan asri untuk berbelanja. Setidaknya, Ciwalk boleh dibilang sebagai salah satu dari dua kawasan belanja di Indonesia yang menawarkan ruang belanja terbuka (open air) yang memberikan kenyamanan bagi pengunjungnya. Layaknya secuil kampung belanja modern di tengah kota.

Menurut Koordinator Promosi dan Acara PT Karya Abadi Samarga (pengelola Ciwalk) Willi Yulianti pemilihan lokasi Ciwalk di Cihampelas karena wilayah Cihampelas sendiri sudah menjadi ikon Kota Bandung. Tidak ke Bandung kalau belum ke Cihampelas, kata orang yang sudah pernah bertandang ke Kota Kembang ini. Jadi, dengan tetap mengusung nama Cihampelas, akan mudah diingat dan menarik orang yang penasaran.

“Cihampelas itu namanya sudah cukup kuat, maka dengan konsep open air yang kami tawarkan, orang bisa menikmati toko dan restoran sambil berjalan-jalan sehingga namanya Cihampelas Walk. Orang-orang bisa leluasa berjalan kaki,” ujar Willi, Rabu (28/2).

Di atas tanah seluas 3,5 hektar, Ciwalk sengaja mempertahankan kontur permukaan tanahnya yang berbukit. Oleh sebab itu, antarbangunan satu dengan yang lainnya terlihat seperti rumah-rumah yang tersusun rapi nan apik di bukit dalam kota. “Hanya sepertiga yang dibangun, sedangkan dua pertiganya adalah taman dan lapangan parkir, atau open space,” kata Willi menambahkan.

Bangunan utama adalah mal yang terletak di bagian tengah, dikelilingi outlet-outlet yang umumnya menjajakan produk fesyen dan makanan. Di sebelah kiri bangunan mal terbentang jalan yang diberi nama Broadway, di sebelah kanannya adalah Young Street, sedangkan bagian depan disebut Union Square, ruang publik yang biasa digunakan untuk arena kesenian.

Broadway lebih menyuguhkan suasana yang dewasa dan keluarga, itu terlihat dari penyewa- penyewa yang umumnya dikunjungi eksekutif muda atau keluarga, seperti Embargo, Gokana, Honeymoon Desert, dan Texas. Sebaliknya, di kawasan Young Street, pengunjung yang berbelanja atau bertandang ke kafenya adalah anak muda. Totalnya, ada 16 restoran dan 25 outlet fesyen yang ada di kawasan Broadway dan Young Street.

“Secara tak langsung, kita memang membagi-bagi dan mengarahkan, Street adalah untuk anak muda, Broadway untuk pengunjung dewasa, meskipun tidak menutup kemungkinan siapa pun bisa melewatinya,” kata Willi.

Saat lelah berjalan keluar masuk toko yang mengusung nama-nama merek lokal maupun internasional, pengunjung bisa beristirahat sejenak di bangku taman. Bangku-bangku itu diletakkan di tengah-tengah jalan sejajar dengan deretan pohon di kawasan Broadway maupun Young Street.

Gaya Eropa

Apabila Ciwalk menyuguhkan desain eksterior yang modern dan dinamis, tidak dengan Paris van Java (PVJ) yang memiliki luas sekitar delapan hektar. Presiden Direktur PT Bintang Bangun Mandiri (pengelola PVJ) Wawa Sulaeman menuturkan, konsep belanja ruang terbuka di tempatnya bergaya arsitektur Eropa. Itu terlihat di bagian tengah pusat perbelanjaan PVJ, atau yang disebut Vias.

Semua penyewa wajib mendesain penampilan bagian depan toko dengan gaya mediterania atau artdeco sehingga terlihat benar-benar seperti jalanan di Eropa pada masa lalu atau setidaknya menyerupai Bandung tempo doeloe. Wawa mengakui, dia ingin menciptakan imajinasi bernuansa Eropa meskipun tidak spesifik Eropa bagian mana. Yang pasti, gaya Eropa sangat kental meskipun interior dalam tokonya lebih bebas dan tidak ada keharusan bergaya artdeco.

“Sebelum membangun bagian depan tokonya, penyewa harus mengajukan desainnya lebih dulu ke pihak manajemen. Bahkan, pilihan warna pun ditentukan. Ini sengaja dilakukan agar konsep bangunan Eropa-nya tetap terjaga,” ujar Jim-Jim Djumhawan, Eksekutif Marketing PT Bintang Bangun Mandiri.

Kawasan Vias hanya berisikan produk fesyen, sedangkan untuk kafe dan restoran berada di bagian depan PVJ, yang disebut Fresco. Sedikitnya, ada 30 restoran yang menggelar kursi dan meja di trotoarnya. Dengan demikian, pengunjung bisa mencicipi makanan dan minuman tidak di dalam ruangan, tetapi di ruang terbukanya. Persis seperti yang biasa dilakukan warga Paris, Perancis, kala menyantap makan siang atau makan malam.

Kafe dan restoran di kawasan Fresco memang masih terjangkau meski pengunjung harus sedikit merogoh koceknya lebih dalam. Di Manchester United Cafe atau Bandoengsche Melk Centrale, misalnya, untuk sekali makan minum berdua minimal menghabiskan Rp 60.000-Rp 100.000.

Kesan mahal sebenarnya bukanlah tujuan dari pengelola PVJ sebab tujuan utama yang ingin dicapai adalah memberikan suasana yang homy atau nyaman bagi setiap pengunjung. Untuk itu, PVJ juga menyuguhkan wisata dan permainan yang biasa dilakukan di alam.

“Wisata belanja di ruang terbuka ini pada dasarnya ingin memberikan kebebasan berjalan, aman, nyaman, dan bisa melakukan fungsi sosial dan entertainment dengan leluasa,” kata Wawa.

Menambah kehangatan suasana pusat perbelanjaan itu, PVJ menggunakan lantai kayu di beberapa bagian lantainya. Lantai kayu itu sebenarnya diperuntukkan bagi perempuan yang suka menggunakan sepatu hak tinggi agar tidak cepat lelah.

Beranjak sore dan menjelang malam, pengunjung biasanya mulai berdatangan, terutama anak-anak muda dan pegawai kantoran yang pulang kerja. Mereka sengaja datang ke PVJ untuk makan malam, nongkrong di kafe, atau sekadar nonton film teranyar di Blitz Megaplex. Kampung pun berubah lebih hidup dan semarak. Tebaran lampu-lampu yang membentang di antara pepohonan membuat suasana PVJ menjadi lebih semarak.

Demikian halnya di Ciwalk. Tak kalah meriahnya. Lampu- lampu taman berbaur serasi dengan lampu-lampu yang dipasang di kafe dan restoran. Ciwalk di kala malam pun berubah seperti pasar festival. Meriah sekaligus romantis. Semakin malam, semakin banyak orang datang untuk makan, jalan-jalan, atau sekadar duduk di kursi taman.

Kini warga Bandung dan Jakarta khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya tak perlu lagi jauh-jauh pergi ke Orchard, Singapura, atau The Groove di Beverly Hills, California, Amerika Serikat, untuk bisa menikmati kawasan belanja yang nyaman dijajaki sambil berjalan kaki. Cukuplah ke Bandung di akhir pekan….

Oleh: Timbuktu Harthana

Sumber: Kompas, Sabtu, 10 Maret 2007. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

March 2007
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
%d bloggers like this: