Dieny & Yusuf

Colenak

Posted on: March 3, 2007

Colenak, Istilah Para ”Aom”

colenakCOLENAK adalah buah dari rasa apatis yang sempat menyelimuti benak Murdi. Selama beberapa tahun, Murdi berjualan beras, masakan, nasi rames, soto, dan sebagainya di kediamannya, sebuah rumah mungil di Jln. Cicadas Bandung. “Alhamdulillah, saur bapa teh, pajeng sih pajeng. Tapi, teu aya langkungna. Kalahkah cape wae. Janten we bapa teh liren icalan,” tutur Hj. Sofiah (66), generasi kedua penggiat bisnis colenak.

Keadaan Murdi yang apatis itu, ternyata, tak luput dari perhatian ayahnya. Apalagi, Murdi memang sempat berkeluh-kesah. “Ayeuna mah kieu we, saur eyang teh, lamun kersa mah dagang peuyeum digulaan. Nganggo kalapa, pokona mah sing raos we,” ujarnya, mengenang penuturan sang kakek.

Murdi terpikat. Ia menuruti nasihat sang ayah, menjual peuyeum digulaan. Tak dinyana, pada awal dekade 1930-an itu, respons masyarakat cukup bagus. Grafik penjualan terus menanjak. Peuyeum digulaan tak hanya populer di kalangan masyarakat awam, tetapi juga kalangan menak. “Dulu, banyak aom-aom yang datang ke sini. Malah, merekalah yang pertama kali mengusulkan nama colenak. Soalnya, kata mereka, peuyeum digulaan teh dicocol enak,” kata ibu 9 anak itu.

Pada dekade 1950-an, grafik kepopuleran colenak semakin menanjak. Waktu itu, Sofiah masih berusia 12 tahun. Ia bercerita bahwa dulu, di daerah Cicadas, banyak terdapat pabrik. “Colenak menjadi jajanan favorit para buruh. Jadi, setiap pulang kerja, mereka selalu datang ke sini. Rame sekali. Waktu itu, saya yang melayani,” ucapnya.

Dalam sehari, waktu itu, colenak yang terjual berkisar 40 hingga 80 pincuk. Soal harga per satu pincuk, kata dia, teu ratus-ratus acan. “Paling-paling 50 sen atau 75 sen. Saya senang melihat uang yang banyak sekali. Saking senangnya, uang hasil penjualan colenak itu ditolombongan. Bapak pun tampak senang dan bersemangat. Dalam sehari, biasanya, kami menghabiskan peuyeum 3 layan (1 layan = 1/2 tanggungan-red.),” tutur Sofiah.

Colenak benar-benar sebuah fenomena. Apalagi, di dekade 1950-an itu, colenak kemudian mendunia. Penganan tersebut dijadikan sebagai salah satu “suvenir” pada Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955. “Sampai sekarang, sejumlah hotel di Bandung tetap memesan colenak sebagai salah satu bingkisan untuk tamu mereka dari mancanegara. Bahkan, ada yang pesan sampai 400 pincuk,” kata dia.

Memasuki abad ke-21, meski tak sefenomenal dulu, colenak tetap memberikan penghasilan buat Sofiah dan keluarga. Bahkan, kini, dia sudah membuka dua gerai baru, di Cibiru dan Buahbatu. “Kami juga ‘menyimpan’ colenak di sejumlah supermarket. Tapi, selain itu, kami juga sering menerima pesanan dari catering buat pengajian, syukuran, dan sebagainya. Sementara, di sini (di gerai Jln. Cicadas,- red.), colenak yang terjual 20-40 pincuk dalam sehari,” ujarnya.

Kendati demikian, Sofiah tak memproduksi peuyeum bakar dan adonan gula-kelapa setiap hari. “Peuyeum dikirim dua hari sekali, sebanyak 2 layan. Sementara, adonan gula-kelapa, dibuat dalam selang 3-4 hari. Soalnya, sekalian bikin banyak. Gulanya 140 kg. Itu teh jadi 3 guleng (panci besar, red.). Satu pincuknya, kini, Sofiah mematok harga Rp 5.000,00 naik Rp 1.000,00 dari harga sebelumnya. Hal itu dilakukan menyusul harga gula yang masih tinggi.

Ternyata, di kalangan pesohor, colenak tetap mendapat tempat. Sofiah mengaku, sejumlah pejabat dan artis pernah beberapa kali datang ke gerainya. “Saha teh wakil presiden anu ngengingkeun istri ti IKIP Bandung teh? Waduh, ibu hilap deui,” ungkap Sofiah seraya menambahkan sejumlah artis yang pernah datang, seperti Christine Hakim, Donny Kesuma, dan Ulfa Dwiyanti.

Di usia yang sudah menginjak senja, Sofiah tetap rajin “menjajakan” colenak, ke mana pun dia pergi. Alhasil, di sejumlah kalangan, Sofiah disebut sebagai “Ibu Colenak”.(Hazmirullah/”PR”)***

1 Response to "Colenak"

mohon informasi pemesanan kalau posisi dijakarta. tks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

March 2007
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
%d bloggers like this: