Dieny & Yusuf

“Babalongan” di Bukit Tunggul

Posted on: March 3, 2007

Peninggalan Budaya Megalitik
”Babalongan” di Bukit Tunggul
Oleh T. BACHTIAR

KABUT menyertai perjalanan kami sejak kampung Pasirangling hingga puncak. Kini, hutan primer Bukit Tunggul sudah terang benderang. Satu dua pohon asli yang seukuran drum masih terlihat berdiri kesepian. Tunggul-tunggul pohon sisa jarahan terdapat di mana-mana. Papan-papan sisa gergajian yang ditinggalkan maling malang-melintang sepanjang jalan.

Satu setengah jam terakhir perjalanan, terasa sangat berat dan menyesakkan. Dalam sulitnya perjalanan itu, terdapat keindahan alami yang luar biasa dan sangat menghibur.

Bunga-bunga hutan warna putih bermekaran, kontras dengan kehijauan dedaunan. Di lantai hutan, bunga pohon hutan warna kuning dan putih yang berjatuhan, seperti taburan bunga di permadani.

Walau kacamata berkabut, masih jelas menyaksikan keindahan bunga yang berserakan itu. Anak-anak pohon gunung tumbuh berselimutkan lumut. Biji pohon hutan berserakan di sepanjang jalan merupakan harapan bagi masa depan hutan ini.

Di lembah-lembah Bukit Tunggul, mengalir anak-anak sungai yang mengarah ke baratdaya, lalu terhalang Patahan Lembang yang melintang. Dinding curam ini membelokkan anak-anak sungai ke arah barat, lalu masuk bersatu dengan aliran Cikapundung.

Bukit Tunggul sangat berarti sebagai kawasan yang dapat meresapkan air ke dalam tanah untuk memasok air tanah dalam Bandung.

Babalongan

Saat kami beristirahat di puncak, ternyata ada bagian yang rata dan ditumbuhi rumput yang cukup terpelihara. Pohon-pohon tampaknya tak tumbuh di sana. Setelah melewati pelataran 6 x 6 meter, ada tangga setinggi satu meter dengan titian selebar satu setengah meter, kemudian ada titian berikutnya dalam ukuran yang sama. Betapa kagetnya setelah sampai di bagian paling atas yang dikira rata ternyata seperti kolam kering dengan dasar rumput.

Bagian itu merupakan kotak 6 x 6 meter dengan kedalaman satu meter. Kami menuruninya dan lama berada di dasar “kolam” kering, yang oleh masyarakat disebut babalongan.

Ketika berjalan berkeliling di atas pematangnya, terlihat ada lagi dua “kolam” bertingkat di bawahnya. Dua “kolam” yang bawah sudah ditumbuhi pohon seukuran betis. Kami menuruni pematang itu dan berjalan sekeliling “kolam” berundak-undak. Ada jalan selebar satu meter memutari bangunan berundak tersebut.

Punden berundak di Bukit Tunggul, bentuknya berbeda degan punden berundak di Gunung Padang Cianjur, di Cisolok Sukabumi, atau punden berundak Sibedug di Banten yang umumnya bagian atasnya rata.

Di Gunung Padang, misalnya, “ruangan-ruangannya”, dibatasi oleh batu tegak, karena gunung itu sangat kaya batu yang berbentuk pilar-pilar yang meniang, hasil dari gunung api intrusif.

Di Bukit Tunggul yang ada hanya tanah, sehingga “ruangan-ruangannya” dibatasi oleh pematang tanah.

Di puncak Bukit Tunggul yang berkabut, punden berundak itu seperti menyentuh awan. Dari puncak yang tinggi dan suci itu para peziarah masa megalitik serasa berada di atas awan. Dari sana pandangan lepas ke Gunung Tangkubanparahu yang biru bersyal kabut putih keabuan.

Menurut KBBI (2001), punden berundak adalah bangunan pemujaan tradisional megalitikum yang bentuknya persegi empat dan tersusun bertingkat-tingkat.

Punden berundak di puncak Bukit Tunggul merupakan tempat pemujaan masyarakat Bandung zaman megalitik. Megalitik berasal dari kata mega yang berarti besar, dan lithos yang berarti batu. Megalitik berarti batu besar.

Sesungguhnya definisi ini bisa menyesatkan. Sebab, tak terdapatnya batu besar itu bukan berarti suatu masyarakat tidak melewati masa budaya megalitik.

Sebagai contoh, di puncak Bukit Tunggul tak mungkin ada batu-batu besar, sebab Bukit Tunggul seluruh permukaan tubuh gunungnya ditimbuni material dari letusan Gunung Sunda/Tangkubanparahu yang berupa pasirtufaan, lapili, breksi, lava, dan aglomerat. Jadi jangan harap, di sini ada peninggalan budaya megalitik yang berupa menhir, dolmen atau batu kubur yang besar-besar.

Namun, sebuah budaya tak kaku pada materi yang dibentuknya. Di Bukit Tunggul tidak ada batu besar, namun di sana pada zaman itu terdapat kayuyang besar-besar.

Bahkan sampai saat ini masih tersisa satu-dua kayu asli seukuran drum. Dalam perjalanan hidupnya, manusia itu selalu menjalin hubungan ketergantungan dengan alam sekitarnya yang melahirkan budaya yang mempunyai nilai sesuai zamannya.

Demikian juga budaya megalitik yang berkembang di Bandung yang terbentuk menjadi bangunan berundak, yang terbuat seluruhnya dari tanah. Bangunan ini dibuat oleh ahlinya yang mempunyai pengetahuan keindahan dan konstruksi yang tinggi.

Mereka mampu memanfaatkan bentukan alam dan material yang tersedia di puncak gunung yang sangat terbatas. Dengan pengerjaan yang sangat efisien, dihasilkan bentukan berundak-undak yang mempunyai nilai dan fungsi yang sangat indah, menjadi ruang yang mampu mewadahi segala hasrat manusia pengusung budaya zaman itu.

Melihat keadaan lingkungannya, sangat mungkin budaya megalitik di puncak Bukit Tunggul banyak yang menggunakan material dari kayu besar, yang kekuatannya paling lama seabad atau dua abad, setelah itu menjadi lapuk dimakan waktu.

Sangat mungkin, di sini pun ada juga menhir dan arca yang terbuat dari kayu besar, termasuk kubur kayu. Bukankah sesungguhnya budaya megalitik itu berevolusi dari budaya perahu sebagai alat bagi mereka untuk mengarungi samudra menuju daerah-daerah pantai dengan gagah berani ribuan tahun yang lalu?

Salah satu peninggalan budaya megalitik ini adalah bangunan berundak. Namun bangunan berundak yang terdapat di Bukit Tunggul mempunyai bentuk yang khas, berupa kotak-kotak yang menyerupai kolam.

Jangan heran, masyarakat Cibodas, Desa Sunten Jaya, Kabupaten Bandung, menyebutnya babalongan, karena bentuknya yang menyerupai kolam. Mengapa karuhun manusia Bandung membuat tempat suci bagi pemujaannya di Bukit Tunggul? Kalau kita berada di Lembang, kita bisa memahami mengapa mereka membuat tempat suci budaya megalitik itu di sana.

Bentuk Bukit Tunggul sangat kerucut bila dibandingkan dengan gunung-gunung lainnya. Sebagai tempat suci yang berskala besar, mungkin harus berupa tempat yang tak terbayangi, atau yang paling tinggi di kawasan tersebut. Bukit Tunggul memenuhi syarat itu karena tingginya 2.206 meter dari permukaan lau (m.dpl.) sehingga menjadi tempat yang paling tinggi di Bandung Utara.

Dibandingkan dengan Gunung Burangrang (2.064 m.dpl.), dan Gunung Tangkubanparahu (2.080 m.dpl.), beda tingginya 200 meteran. Apalagi bila dibandingkan dengan Gunung Karamat (1.511 m.dpl.), Gunung Lingkung (1.520 m.dpl.), Gunung Pangparang (1.957 m.dpl.), Pasir Patokbeusi (1.557 m.dpl.), Gunung Palasari (1.859 m.dpl.), atau Gunung Manglayang (1.824 m.dpl.). Namun, bukan berarti di tempat-tempat itu tak ada peninggalan budaya manusia Bandung purba.

Punden berundak di puncak Bukit Tunggul adalah peninggalan karuhun Bandung dari kebudayaan megalitik yang umurnya cukup tua, paling tidak 3.000 tahun yang lalu, atau 1.000 tahun Sebelum Masehi. Inilah bukti perjalanan budaya manusia Bandung. 

(Penulis, Anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung)***

Sumber: Pikiran Rakyat, Jumat, 8 September 2006

2 Responses to "“Babalongan” di Bukit Tunggul"

terima kasih infonya ya

Wah..nambah lagi ni pengetahuan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

March 2007
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
%d bloggers like this: