Dieny & Yusuf

Sidimentasi Citarum Mengkhawatirkan

Posted on: March 2, 2007

Tingkat sedimentasi (pengendapan) Sungai Citarum saat ini mencapai tahap mengkhawatirkan. Rencana pemangkasan Curug Jompong hanya akan menambah laju sedimentasi di wilayah hilir dan mengubah struktur ekologi alami yang ada.
LEKUKAN Sungai Citarum di sekitar Kec. Margahayu Kab. Bandung terlihat jelas dari udara. Tingginya tingkat degradasi di wilayah hulu, membuat laju pengendapan di Sungai Citarum mengkhawatirkan, yakni mencapai 4 juta meter kubik/tahun. Foto diambil 14 Februari 2007 lalu, dengan menggunakan “trike” (gantole bermesin).* DENI YUDIAWAN/”PR”
Demikian dikatakan Chay Asdak, peneliti Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran pada Lokakarya Tepung Lawung III Pelestarian DAS Citarum Hulu di Gedung Mohammad Toha Kompleks Perkantoran Pemkab Bandung di Soreang, Kab. Bandung, Rabu (28/2). Menurut dia, berdasarkan data hingga tahun 2003 laju sedimentasi Sungai Citarum di mulut Waduk Saguling mencapai 4 juta meter kubik/tahun. Tingginya laju sedimentasi ini akan berpengaruh pada listrik di sejumlah PLTA yang bersumber dari aliran Sungai Citarum.
Data yang ditunjukkan Chay bersumber dari data PT PLN Unit Pembangkit Saguling tahun 2004. Tingkat sedimentasi yang mencapai 4 juta meter kubik/tahun terjadi sejak 1988/1989 dan berlanjut hingga 2004.
”Tingginya laju sedimentasi ini merupakan tanda tingginya degradasi sumber daya lahan dan air di wilayah hulu Citarum. Rencana pemangkasan Curug Jompong cenderung lebih pada pendekatan projek tanpa melihat pengaruhnya pada aspek ekologis yang ada,” kata Chay. Menurut dia, laju sedimentasi Sungai Citarum akan jauh lebih tinggi jika Curug Jompong dipangkas.
“Tindakan pelurusan meander (kelokan) sungai termasuk pemangkasan air terjun (curug) sudah ditinggalkan di Amerika dan Eropa. Masa kita malah melakukannya,” kata Chay. Solusinya, pembuatan tanggul di wilayah banjir akan lebih efektif dan ramah lingkungan dibandingkan harus memangkas Curug Jompong. Atau, dilakukan relokasi bagi masyarakat yang sering terkena banjir.
Penanaman pohon
Chay juga mengajak semua pihak untuk melihat persoalan rusaknya hulu DAS Citarum secara menyeluruh. Selama ini, kata dia, banyak kalangan–termasuk pemerintah–selalu mengedepankan upaya penanaman pohon. Namun, data menunjukkan bahwa keberhasilan program GNRHL (Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan) ataupun GRLK (Gerakan Rehabilitasi Lahan Kritis) ternyata tak signifikan di lapangan.
“Pendekatan lain yang harus dilakukan yakni sistem insentif. Maksudnya, pemerintah sudah seharusnya memberikan insentif kepada masyarakat yang telah berkontribusi menanami kembali hutan atau lahan yang terdegradasi,” kata Chay.
Bentuk insentif itu yang harus dirumuskan, apakah berupa uang atau bentuk lain yang menguntungkan masyarakat.
Pendekatan serupa telah dilakukan dalam sistem CDM (Clean Development Mechanism) yang telah diberlakukan secara global, yang memberikan insentif bagi pihak-pihak yang telah menjaga kelestarian lingkungan dan berperan dalam menahan laju perubahan iklim.
Perubahan paradigma ini, kata Chay, sudah layak dicermati mengingat makin bergesernya budaya di tengah masyarakat. Ia mengajak pemerintah yang selama ini telah mengeluarkan biaya besar untuk penanaman pohon, juga menyisihkan sebagian dananya untuk insentif tersebut.
Getar Berseka
Lokakarya kemarin mengambil tema “Hulu Menanam, Hilir Peduli” yang diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran bekerja sama dengan Pemkab Bandung, PT Indonesia Power, dan Masyarakat Cinta Citarum (MCC).
Direktur PT Indonesia Power, Abimanyu Suyoso mengatakan, pihaknya sangat berkepentingan dalam upaya pelestarian hulu DAS Citarum ini karena berkaitan langsung dengan listrik yang dihasilkan dari aliran sungai tersebut.
Sementara itu, Bupati Bandung Obar Sobarna mengatakan, sudah saatnya semua pihak berpikir untuk kelestarian Sungai Citarum. Rencananya, pada HUT Kab. Bandung 20 April mendatang, juga akan dikukuhkan program “Getar Berseka” (geulis, lestari, bersih, sehat, kayungyun) yang beranggotakan semua kalangan yang berkepentingan dengan Citarum.
Curug Jompong
Sementara itu, ketika ditemui usai menemui keluarga korban KMP Levina I di Kel. Karangmekar Kec. Cimahi Tengah, Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan menyatakan, belum tentu Curug Jompong akan dipangkas. “Ada pendapat, jika Curug Jompong dipangkas akan menurunkan debit air di Citarum sehingga tidak lagi meluap. Namun, ada juga yang berpendapat sebaliknya. Nanti saya akan clear-kan, mana pendapat yang paling benar untuk diterapkan di DAS Citarum,” ucap Danny. (A-124/A-158)***

 

Sumber: Pikiran Rakyat, Kamis, 1 Maret 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

March 2007
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
%d bloggers like this: