Dieny & Yusuf

Kampung Kuta

Posted on: March 2, 2007

Lokasi dan Lingkungan
Kampung/Dusun Kuta secara administratif berada di wilayah Kabupaten Ciamis, Kecamatan Tambaksari, tepatnya di dalam Desa Karangpaningal dan ditetapkan sebagai sebuah Dusun yaitu Dusun Kuta. Dusun Kuta ini terdiri atas 2 RW dan 4 RT.
Kampung Kuta secara administratif berbatasan dengan Dusun Cibodas di sebelah utara, Dusun Margamulya di sebelah barat, dan disebelah selatan dan timur dengan Sungai Cijulang, yang sekaligus merupakan perbatasan wilayah Jawa Barat dengan Jawa Tengah.
Untuk menuju ke kampung tersebut jarak yang harus ditempuh dari kota Kabupaten Ciamis sekitar 34 km menuju ke arah utara. Dapat dicapai dengan menggunakan mobil angkutan umum sampai ke Kecamatan Rancah. Sedang dari Kecamatan Rancah menggunakan motor sewaan atau ojeg, dengan kondisi jalan aspal yang berkelok-kelok, serta banyak tanjakan yang cukup curam. Jika melalui Kecamatan Tambaksari dapat menggunakan kendaraan umum mobil sewaan atau ojeg, dengan kondisi jalan serupa. Jika cuacanya akan turun hujan mobil sewaan tidak akan mau mengantar ke Kampung Kuta tersebut, karena kondisi jalan yang licin dan terjal, kecuali naik ojeg.
Secara geografis Kampung Kuta letaknya terpisah dengan kampung lain yang ada di Desa Karangpaninggal karena berada di suatu lembah yang dikelilingi tebing-tebing tegak lurus yang sekaligus memisahkan atau menjadi batas dengan kampung lainnya. Tebing-tebing yang mengelilingi Kampung Kuta di bagian sebelah utara, barat dan selatan, jika dilihat dari arah dalam Kampung Kuta nampak menyerupai benteng yang melindungi Kampung tersebut. Sebagai daerah lembah, kampung kuta merupakan daerah yang subur. Namun demikian daerah kampung kuta dan daerah lainnya di Desa Karangpaningal mempunyai kondisi tanah yang labil.
terdekat terletak di Kecamatan Tambaksari yang membutuhkan waktu dua jam berjalan kaki. Sekolah SLTA harus ke Kota Ciamis atau Banjar.
Sebagai pengisi kekosongan waktu anak-anak, para orang tua Iebih senang jika anak-anak mereka membantu orang tuanya menyadap aren, menyabit rumput, atau pekerjaan rumah tangga. Walaupun secara akademis penduduk Kampung Kuta relatif rendah, namun etos kerja mereka relatif tinggi. Mereka bersedia mengerjakan apa saja yang dinilainya halal, terutama pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan pertanian dan perkebunan, apalagi jika pekerjaan-pekerjaan tersebut dinilai dapat meningkatkan potensi kampung.
Potensi Budaya
a. Asal-usul
Nama Kampung Kuta ini mungkin diberikan karena sesuai dengan lokasi Kampung Kuta yang berada di lembah yang curam sedalam kurang Iebih 75 meter dan dikelilingi oleh tebung-tebinglperbukitan, dalam bahasa Sunda disebut Kuta (artinya pager tembok).
Mengenai asal-uasul Kampung Kuta, dalam beberapa dongeng buhun yang tersebar di kalangan masyarakat Sunda sering disebut adanya nagara burung atau daerah yang tidak jadi/batal menjadi ibukota Kerajaan Galuh. Daerah ini dinamai Kuta Pandak. Masyarakat Ciamis dan sekitarnya menganggap Kuta Pandak adalah Kampung Kuta di Desa Karangpaningal sekarang. Masyarakat Cisaga menyebutnya dengan nama Kuta Jero. Dongeng tersebut ternyata mempunyai kesamaan dengan cerita asal-usul Kampung Kuta. Mereka menganggap dan mengakui dirinya sebagai keturunan Raja Galuh dan keberadaannya di Kampung Kuta sebagai penunggu atau penjaga kekayaan Raja Galuh.
Sejak kapan berdiri Kampung Kuta, maupun asal-usul kampung tersebut, belum diketahui dengan pasti. Namun demikian, ada beberapa versi asal-usul Kampung Kuta yang dituturkan kuncen Kampung Kuta.
Asal-usul Kampung Kuta terdiri dari atas dua bagian yang masing-masing berdiri sendin, yaitu Kampung Kuta pada masa kerajaan Galuh dan pads masa kerajaan Cirebon.
Versi Kampung Kuta pada masa Kerajaan Galuh ini dimulai pada awal pendirian Kerajaan Galuh. Seorang raja Galuh bernama Prabu Ajar Sukaresi sedang mengembara bersama beberapa pengawal terpilih dan berpengalaman. Pengembaraan dilakukan untuk mencari daerah yang cocok untuk mendirikan pusat pemerintahan kerajaan. Pada saat rombongan Prabu Ajar Sukaresi tiba di tepi sebuah sungai yang bernama Cijulang, raja melihat daerah di seberang sungai atau sebelah barat cukup menarik dan menurut penglihatannya cocok untuk dijadikan pusat kerajaan. Prabu Ajar Sukaresi segera memerintahkan para pengawalnya untuk beristirahat dan membangun tempat peristirahatan di tempat tersebut. Dia sendiri akan meneliti dan menunjau secara seksama daerah seberang Sungai Cijulang.
Setelah melakukan penelitian, Prabu Ajar Sukaresi memerintahkan para pengawalnya untuk membongkar tempat peristirahatan sementara dan segera pindah ke seberang sungai untuk memulai persiapan membuka daerah yang akan dijadikan pusat kerajaan. Bekas tempat peristirahatan sementara yang terdapat di tepi sungai Cijulang ini, sampai sekarang disebut Dodokan, artinya daerah tempat duduk atau peristirahatan raja.
Prabu Ajar Sukaresi berkeliling ke daerah tersebut dan ternyata daerah tersebut dikelilingi tebing-tebing tinggi. Melihat kondisi ini, Prabu Ajar Sukaresi beranggapan bahwa daerah ini tidak dapat berkembang dan diperluas karena dibatasi tebing. Dengan terpaksa, segala persiapan yang telah dilaksanakan untuk membangun pusat pemerintahan dibatalkan dan ditinggalkan. Daerah ini sekarang disebut Kampung Kuta. Penamaan kampung ini sesuai. dengan Ietaknya yang berada di sebuah Iembah dan dikelilingi tebing. Dalam bahasa
Sunda daerah dengan kondisi demikian ini disebut kuta
Prabu Ajar Sukaresi dan rombongan melanjutkan pengembaraan. Setelah mengembara cukup jauh dan cukup lama akhirnya berhasil menemukan daerah pertemuan dua sungai yaitu Sungai Cimuntur dan Sungai Citanduy yang cocok untuk pusat pemerintahan. Daerah ini dibangun menjadi pusat kerajaan Galuh dan sekarang menjadi kawasan situs Karangkamulyan.
Setelah ditinggalkan Prabu Ajar Sukaresi, daerah Kampung Kuta tidak diketahui kelanjutan ceritanya.
Versi asal-usul Kampung Kuta pada masa Kerajaan Cirebon. Diawali oleh dua kerajaan yang menaruh perhatian besar terhadap Kampung Kuta, yaitu kerajaan Cirebon dan kerajaan Mataram di Solo. Perhatian kedua kerajaan tersebut, disebabkan para penguasanya mendapat amanat dan wangsit dari leluhurnya untuk memelihara dan menjaga daerah bekas peninggalan Prabu Ajar Sukaresi.
Raja Cirebon mengutus salah seorang kepercayaannya yang bernama Raksabumi agar menetap di Kuta dengan tugas memelihara dan menjaga keutuhan daerah Kuta. Kepada Raksabumi, Raja Cirebon berpesan bahwa apabila di Kuta telah ada utusan dari kerajaan Mataram maka sebaiknya mengalah (ngelehan maneh) dan Raksabumi (Ki Bumi) tidak boleh kembali ke Cirebon. Demikian juga Raja Solo berpesan kepada utusannya bahwa jika utusan Raja Cirebon telah ada di Kuta lebih dulu maka harus mengalah dan tidak boleh kembali ke Solo. Dengan adanya perintah tersebut maka kedua utusan berusaha keras agar dapat mencapai Kuta lebih dulu.
Sebenarnya kedua utusan tiba di daerah Kuta hampir bersamaan. Akan tetapi, setelah tiba di daerah Kuta tanpa sebab yang pasti utusan kerajaan Solo meninggalkan daerah Kuta. Raksabumi sendiri segera membuka hutan dan membangun pemukiman di sekitar situ (danau, rawa) dan dikenal dengan nama pamarakan, artinya tempat marak atau menangkap ikan dengan cara mengeringkan airnya. Sebagian masyarakat menyebutnya pamarekan bukan pamarakan. Pamarekan berarti dekat. Disebut demikian karena Raksabumi membangun pemukiman dekat dengan daerah yang dimaksud.

Demikianlah, akhirnya Raksabumi menjadi pemimpin di Kampung Kuta
atau penunggu dan penjaga daerah Kuta hing9a akhir hayatnya. Setelah meninggal Raksabumi dimakamkan di Cibodas dan dikenal dengan nama Ki Bumi. Dia dianggap sebagai cikal bakal dan leluhur yang menurunkan masyarakat Kuta. Raksabumi adalah pemimpin pertama dan sampai sekarang Kampung KUta tetap dipimpin oleh keturunan Ki Bumi.
Keberadaan Ki Bumi di Kampung Kuta ditugaskan oleh Raja Cirebon agar menjaga dan memelihara daerah bekas peninggalan Prabu Ajar Sukaresi yang terdapat di Kampung Kuta. Peninggalam tersebut umumnya berupa tempat di hutan keramat yang dilihat dad namanya menunjukkan persiapan membangun pemukiman, antara lain Panday Domas ( pandai besi tempat pembuatan senjata dan peralatan pembangunan), Panyipuhan (tempat menyepuh peralatan perang atau emas), Gunung Apu, Gunung
Semen, dan Gunung Barang.
Masyarakat Kampung Kuta percaya bahwa peninggalan itu disimpan di hutan keramat yang dijaga oleh mahluk gaib yang bernama Bima Raksa
Kalijaga, Sang Maetil Putih, Kiai Bima Raksanagara, dan Prabu Mangkurat
Jagat. Oleh karena itu, masyarakat sangat patuh untuk tetap memelihara dan menjaga hutan keramat. (1998:18).
Versi lain ditulis dalam Selayang Pandang Pemukiman Tradisional
Kampung Kuta, bahwa Kampung Kuta telah ada sejak jaman dulu. Dimulai
dengan datangnya Ambu Raksa Bima Kalijaga suruhan Prabu Siliwangi untuk
membuka pusat Kerajaan Galuh di Kuta. Bukti-bukti persiapan tersebut sampai kini masih tersimpan di antaranya persiapan semen merah masih tersimpan di Gunung Semen; peralatan rumah tanggga tersimpan di Gunung Padaringan dan Panday Domas; peralatan kesenian tersimpan di Gunung Wayang dan Gunung Batu Goong. Namun pada saat akan mendirikan kerajaan tidak mencapai Patang Ngewu Domas pendirian keraton digagalkan, semua barang-barang yang telah dipersiapkan semuanya disimpan di Gunung
Barang.

Setelah itu Kerajaan Galuh berpindah ke Karang Kamulyan, sebagai gantinya is menunjuk anak buahnya yang berasal dari Solo yang bernama Aki Batasela untuk memelihara Kampung Kuta, selanjutnya menugaskan anak buahnya yang lain yang berasal dari Cirebon yang bemama Aki Bumi. Di antara dua anak buah yang ditugaskan ke Kampung Kuta hanya Aki Bumi yang dapat sampai ke Kampung Kuta, sedangkan Aki Batasela karena lambat hanya sampai ke Kampung Cibodas, untuk selanjutnya bermukin di Cibodas sampai meninggal. Oleh sebab itu sampai kini setiap penduduk Kampung Kuta yang meninggal akan dikuburkan di Cibodas, hal ini sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur yaitu Aki Batasela yang meninggal di Cibodas.
Pemeliharaan Kampung Kuta selanjutnya diserahkan kepada turunanturunan Aki Bumi secara turun-temurun disebut dengan kuncen atau kunci. Keturunan dari Aki Bumi, yang menjadi kuncen di Kampung Kuta adalah Aki Dano, Aki Maena, Aki Surabangsa, dan Aki Rasipan. Kelima kuncen tersebut telah meninggal, selanjutnya yang menjadi kuncen di Kampung Kuta harus merupakan keturunan Aki Rasipan.

b. Religi, Sistem Pengetahuan, dan Tabu
Seluruh penduduk Kampung Kuta beragama Islam. Sarana ibadah yang dapat dipakai oleh masyarakat umum berupa sebuah mesjid yang letaknya bersebelahan dengan Balai Dusun, disamping mushola-mushola lain yang terdapat di rumah-rumah penduduk. Walaupun hanya sebuah mesjid, bukan berarti pelaksanaan ibadah keagamaan rendah karena penduduk Kampung Kuta dikenal sebagai masyarakat yang taat menjalankan syariat agama Islam. Pelaksanaan shalat lima waktu mereka lakukan di rumah masing-masing atau berjamaah di masjid. Pengajian rutin diikuti oleh sejumlah besar penduduk dilakukan di masjid. Pengajian yang diikuti oleh kaum ibu atau remaja putri dilakukan pada Kamis malam (malam Jumat) atau Jumatpagi, sedangkan pengajian yang diikuti oleh bapak-bapak atau remaja putra dilakukan pada had Jumat menjelang shalat Jumat.

Pelaksanaan peringatan hari-hari besar keagamaan seperti Muludan, Rajaban, atau Nuzulul Quran tidak pernah dilewatkan oleh masyarakat Kampung Kuta. Pelaksanaan acara tersebut dipusatkan di mesjid atau di Balai Dusun dengan cara mengadakan pengajian atau ceramah keagamaan dengan mendatangkan penceramah dari luar Kampung Kuta biasanya dari Cisontrol. Pada acara tersebut secara spontan penduduk mendatangi tempat perayaan dengan membawa nasi tumpeng atau penganan Iainnya yang akan dimakan bersama-sama. Jika memerlukan biaya berupa uang, mereka akan menyumbang secara sukarela dengan jumlah yang variatif.

Fungsi utama penyelenggaraan kegiatan tersebut, selain melaksanakan kegiatan beribadat yang dapat meningkatkan pengetahuan, keimanan, dan ketaqwaan, juga sebagai ajang silaturahmi sebab pada saat penyelenggarakan kegiatan tersebut berkumpul hampir seluruh penduduk kampung, pada saat itu peserta dapat saling melepaskan kerinduan atau saling bertanya tentang keadaan masing-masing termasuk tentang kesehatan seseorang. Jika terdapat warga kampung yang sakit mereka akan menengok bersama-sama.
Tokoh panutan keagamaan bagi masyarakat Kampung Kuta adalah ustadz yang menjadi pengurus DKM. Bagi masyarakat Kampung Kuta orang yang terpilih menjadi DKM adalah orang-orang pilihan yang pengetahuan agamanya melebihi kemampuan beragama penduduk Iainnya, sikap-sikap mereka pun perlu dituruti dan diteladani sebagai sikap yang terpuji. Pada umumnya sikap mereka selalu merendah, tidak emosional, dan menuntun orang-orang yang memerlukan tambahan pengetahuan agama, karena setiap ucapan selalu dituruti oleh para santrinya dan penduduk Iainnya. Karena sikap-sikap itulah mereka selalu diundang pada setiap kegiatan keagamaan dan dijadikan konsultan bagi masalah-masalah keagamaan. Tidak jarang I
ustadz ini dijadikan mediator atau transformator bagi program-program pemerintah dalam pengembangan pembangunan daerah atau hal-hal lainnya.
Sekalipun keyakinan terhadap agama Islam yang dianut masyarakat Kampung Kuta melekat dengan kuat, namun pada pelaksanaan sehari-hari masih tercampur antara kaidah-kaidah Islam dengan adat setempat. Hal ini disebabkan karena penerapan ajaran Islam sejak awal dibarengkan dengan adat yang berlaku scat itu dan disampaikan tanpa pemilahan berupa penjelasan akan perbedaan antara ajaran agama dan adat. Selain itu adat yang berlaku sangat aplikatif dengan kehidupan penduduk sehari-hari bercampur dengan ajaran agama yang dituntut untuk dilaksanakan. Kini, akhimya penduduk Kampung Kuta sangat sulit untuk memilah dan memilih antara ajaran agama Islam dan adat.
Penerapan adat yang kuat menyebabkan kepercayaan terhadap mahluk gaib pun sangat kuat dalam kehidupan sehari-hari, dan dipercayai keberadaannya secara kasat mata. Mahluk-mahluk gaib tadi dinamai Ambu, Rama, Raksa, dan Bima Kal#aga. Mahluk-mahluk gaib tadi berada di berbagai tempat di seluruh wilayah Kampung Kuta dan senantiasa menjaga keamanan, kesejahteraan, keselarasan penduduknya. Oleh sebab itu setiap akanmelakukan kegiatan ritual nama-nama itu selalu disebut untuk dimintai ijin dengan ucapan ”    Ka Ambu, Ka Rama, Ka Raksa , Ka Bima
Kalijaga nu ngageugeuh di karamat Kuta Jero    “. Namanama tersebut secara tidak langsung merupakan simbol-simbol. Ka Ambu merupakan simbol permohonan kepada ibu; Ka Rama merupakan simbol permohonan kepada bapak, Ka Raksa merupakan simbol permohonan untuk menjaga diri kita sendiri; Ka Bima Kalijaga merupakan simbol permohonan kepada sesuatu yang dinilai paling gagah.
Selain “disambat” dalam acara-acara ritual, nama-nama tersebut disebutkan jika ada orang yang kasambet (jasadnya dimasuki roh halus/ kesurupan). Menurut anggapan penduduk Kampung Kuta orang yang kasambet dinilai telah melakukan perbuatan yang ditabukan. Untuk menyembuhkannya harus diweruhkeun berupa permintaan maaf ‘kepada mahluk-mahiuk gaib tersebut, karena mahiuk-mahiuk tersebut mempunyai pangaweruh berupa kemampuan untuk meniadakan sesuatu yang asalnya ada atau mengadakan sesuatu yang asalnya tidak ada.
Kepercayaan terhadap tabet-tabet (tempat-tempat keramat) sama kentalnya dengan kepercayaan terhadap mahluk gaib/mahluk harus. Di Kampung Kuta terdapat beberapa tabet yang kekeramatannya masih terjaga dengan baik. Tabet-tabet tersebut adalah
1. Leuweung Gede (Leuweung Karamat)    4. Gunung Barang
2. Gunung Wayang    5. Gunung Batu Goong
3. Gunung Panday Domas    6. Ciasihan

1. Leuweung Gede (Leuweung Karamat)
Leuweung Gede merupakan kawasan hutan lindung yang dikeramatkan. Letak hutan ini berada di sebelah Selatan Kampung Kuta dengan luas hampir separuh luas Kampung Kuta yaitu seluas kurang Iebih 40 hektar. Selain hutannya sendiri yang dikeramatkan, di dalamnya terdapat danau kedil (disebut kawah) dan batu (disebut kuburan) yang sama-sama dikeramatkan. Cara atau bentuk penghormatan terhadap hutan tersebut diberlakukan sejumlah tabu atau pamali yang diberlakukan untuk semua warga.

2. Gunung Wayang
Gunung Wayang merupakan gunung yang dikeramatkan penduduk Kampung Kuta, tepatnya di sebelah utara kampung. Gunung ini dikeramatkan karena terkait erat dengan kisah asal-usul Kampung Kuta. Menurut penuturan beberapa informan, disebut Gunung Wayang karena di gunung itulah berbagai persiapan kesenian termasuk wayang disimpan, pada saat Ambu Rama Raksa Bima Kalijaga akan menjadikan kawasan Kuta sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Galuh.

3. Gunung Pandai Domas/ Gunung Tahanan
Letak gunung ini terletak di sebelah barat Kampung Kuta. Gunung ini dikeramatkan karena masih memiliki rangkaian cerita dengan gunung-gunung Iainnya yang dikeramatkan.

4. Gunung Barang
Gunung Barang yang terletak di sebelah Barat Daya kampung, dikeramatkan oleh penduduk karena memiliki nilai historis, yaitu gunung ini dijadikan tempat menyimpan barang-barang yang akan dipakai untuk membuka pusat kerajaan Galuh. Barang-barang yang telah dipersiapkan ternyata tidak dipergunakan mengingat pembukaan pusat kerajaannya tidak jadi, maka barang-barang tersebut tidak dibawa pulang, melainkan disimpan dan ditimbun di Gunung Barang.

5. Gunung Batu Goong
Gunung Batu Goong masih berada di kawasan Kampung Kuta letaknya di sebelah Timur Laut. Gunung ini dikeramatkan karena di gunung ini tersimpan goong (gong) pada saat akan dibuka wilayah pusat pemerintahan kerajaan Galuh. Menurut cerita di gunung ini terdapat sebuah batu yang bentuknya mirip goong (gong)

6. Ciasihan
Ciasihan merupakan sebuah mata air terletak hampir di tengah-tengah Kampung Kuta. Ciasihan dikeramatkan karena sepanjang masa airnya tidak pemah surut dan tidak pernah meluap. Jika dilihat dari namanya, Ciasihan yaitu cai (air) yang memiliki asih (kasih, sayang) artinya air tersebut dipercaya dapat menimbulkan rasa kasih sayang dari seseorang kepada orang lain.
Cara lain sebagai bentuk penghormatan atau pengkeramatan tabettabet tersebut yaitu dengan memelihara kelestarian Iingkungan alamnya dengan cara memberlakukan beberapa tabu di tempat-tempat itu, serta ancaman yang keras bagi setiap perusak atau pelanggar tabu.

Bentuk kepercayaan terhadap hari baik dan hari buruk pun masih dianut serta dipergunakan oleh masyarakat Kampung Kuta. Perhitungan hari tersebut digunakan untuk menentukan saat-saat yang baik dan kurang baik dalam memulai kegiatan. Umumnya perhitungan didasarkan kepada nama orang yang akan menyelenggarakan kegiatan tertentu, berdasarkan naptu hari, naptu bulan, dan weton (hari kelahiran), dan sebagainya.
Beberapa kegiatan/keperluan yang didasarkan kepada hari baik dan hari buruk, antara lain:

1. Memberi nama kepada bayi; bayi yang baru lahir harus diberi nama yang baik berdasarkan perhitungan tertentu. Harus dihindarkan nama-nama yang perhitungannya jatuh kepada perhitungan yang mendapatkan lara (sengsara) atau pati (kematian), tetapi harus dipilih nama-nama yang perhitungannya akan jatuh kepada kebahagiaan seperti had yang sama dengan sri (kaya akan hasil tanaman), lungguh (pangkat dan ilmu yang tinggi), dan dunya (kekayaan yang banyak).
2. Melakukan pekerjaan; seseorang yang akan melakukan pekerjaan seperti akan mencari nafkah, berdagang, bercocok tanam, menyimpan padi di lumbung, dan lain sebagainya harus menghitung hari yang tepat. Jika harinya tidak tepat/buruk (apes), maka pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan tidak akan menghasilkan sesuatu yang menggembirakan, bahkan akan mendatangkan kekecewaan; berdagang tidak beroleh keberuntungan; menagih utang tidak akan berhasil; atau tanaman yang ditanam hasilnya sedikit karena`tanamannya diserang hama, atau sebabsebab Iainnya.
3. Mendirikan rumah; mereka memperhitungkan hari baik dalam mendirikan rumah ataupun memindahkan rumah. Akan tetapi tidak hanya menentukan had baiknya saja, merekapun menentukan arah serta tata letak rumah yang akan dibangun. Hal ini dimaksudkan agar rumah yang dibangun menjadi rumah yang menentramkan penghuninya, terhindar dari segala macam kejahatan baik dari manusia atau dari mahluk halus, serta penghuninya selalu diberi limpahan rejeki.
4. Menentukan hari perkawinanlkhitanan; hari perkawinan atau khitanan anak merupakan saat-saat yang monumental dan hanya dilakukan sekali seumur hidup, oleh sebab itu semua yang terkait dengan saat-saat itu diperhitungkan dan dipertimbangkan secara matang dan hati-hati termasuk penentuan hari pelaksanaan acara tersebut. Dengan hari yang dianggap tepat penyelenggaraan perkawinan akan berjalan lancar, keluarga yang dibangun dari pernikahan tersebut akan menjadi keluarga yang bahagia dan sejahtera, suami istri akan dihindarkan dan masalah rumah tangga, dan lain sebagainya. Bagi anak yang dikhitan selain lancar dalam penyelenggaraannya, juga anaknya diharapkan menjadi anak yang soleh, banyak rejeki, dan berbakti pada kedua orang tuanya.
Menentukan hari baik dan hari buruk untuk memulai suatu kegiatan tidak dapat dilakukan sendiri setiap penduduk Kampung Kuta, mengingat keterbatasan pengetahuan mereka akan pengetahuan tersebut, oleh sebab itu bagi penduduk yang memerlukan penentuan hari baik atau hari buruk akan bertanya kepada orang yang menguasai ilmu tersebut yaitu puun. Puun ini adalah laki-laki yang telah tua usianya, sangat wajar orang tua dianggap puun mengingat usia yang menunjukkan banyaknya pengalaman hidup, dan berbagai kejadian dalam kehidupan, atau sudah mengenal asam garam kehidupan.
Selain mengenai perhitungan hari baik dan hari buruk serta kepercayaan terhadap mahiuk halus/gaib, masyarakat Kampung Kuta sebagai warga kampung adat mempunyai’ beberapa aturan adat dan tabu (pamah) yang harus ditaati. Pelanggaran terhadap tabu (pamah) dapat menyebabkan terjadinya musibah bukan saja melanda pelaku pelanggaran tapi juga mengenai seluruh penduduk kampung. Bentuk-bentuk musibah yang datang dapat bermacam-macam seperti wabah penyakit, serangan hama tanaman, atau gempa bumi berupa tanah longsor, angin topan, atau banjir. Tabu atau pamali terungkap dalam ungkapan-ungkapan yang dikemukakan ketua adat atau kuncen sebagai aturan adat yang harus dipatuhi dan diyakini kebenarannya. Ungkapan-ungkapan tersebut dianggap sebagai kearifan tradisional karena berasal dari wrisan leluhur yang telah berlaku secara turuntemurun. Di Kampung Kuta, ungkapan tradisional tersebut masih berlaku sebagai pranata sosial yang dapat mengendalikan perilaku manusia dalam berinteraksi dengan alam atau dengan sesamanya.


Sumber: Kampung Adat dan Rumah Adat di Jawa Barat

Disbudpar Jabar 2002

3 Responses to "Kampung Kuta"

bangunan masyarakat kampung kuta umumnya menggunakan bentuk bangunan parahu kumureb atau perahu yang terbalik.ha

tolong dalam pembabakan sejrahnya cantumkan tahun

Manusia merupakan salah satu makhluk Tuhan yang diberikan banyak sekali kelebihan. Diantaranya diberikan akal dan budi pekerti. Akal mendorong manusia untuk memikirkan sejauh mana dampak atau manfaat yang ditimbulkan sebelum melakukan aktivitas. Dan mendorong manusia untuk berkreasi dan melakukan inovasi.
Manusia merupakan faktor utama penghasil kebudayaan di bumi ini. Sebagai aktor kebudayaan manusia tidak terlepas dari wujud kebudayaan tersebaut baik secara fisik maupun secara sosial.
Rumah merupakan salah satu hasil kebudayaan yang berwujud, dapat kita lihat, diraba, maupun didokumentasikan.
Pada masa manusia belum mengenal tulisan, manusia dalam membuat rumah biasanya menggunakan bahan-bahan dari alam seperti batang pohon sebagai kerangka rumah, daun-daun sebagai atapnya.
Kesederhanaan itu terjadi karena manusia belum memikirkan sampai sejauh mana rumah tinggal yang ideal pada waktu itu. Proses berpikirpun terjadi sehingga adanya suatu inovasi dan perubahanpun terjadi.
Sampai saat ini perubahan rumah dapat kita lihat di sekeliling kita dengan beragamnya bentuk, dan struktur rumah.
masyarakat kampung Kuta merupakan masyarakat yang memiliki bentuk rumah yang masih alami dan kemungkinan merupakan bangunan yang mempunyai nilai sejarah sebagai artefak.
………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

March 2007
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
%d bloggers like this: