Dieny & Yusuf

Curug Jompong Tetap Dipangkas

Posted on: March 2, 2007

Budi Brahmantyo, ”Akan Menimbulkan Masalah Baru”

Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Departemen Pekerjaan Umum yang menangani normalisasi Sungai Citarum, tetap akan memangkas Curug Jompong yang berada di Desa Jelegong, Kec. Soreang. Hal itu ditandaskan Direktur Jenderal SDA Ir. Siswoko Dipl. H. E., usai menghadiri pertemuan di Bale Sawala, Soreang Kab. Bandung, Jumat (2/6).

 

”Perlu dicatat, Curug Jompong tidak dihancurkan. Hanya dipangkas 2 meter. Itu berlanjut dengan pengerukan dasar sungai, sehingga aliran sungai tetap seperti biasa. Tidak menjadi lebih deras seperti yang dikhawatirkan banyak pihak,” ucapnya.

 

Ia menjelaskan, ketinggian antara dasar sungai (dihitung dari Curug Jompong) dengan muka air di Waduk Saguling mencapai 12 meter. Dengan dipangkas 2 meter, ia menjamin tidak akan terjadi erosi atau penggerusan bibir-bibir sungai. ”Rezim sungai tidak akan berubah. Tetap seperti yang lama karena diiringi pengerukan dasar sungai,” ucapnya.

 

Pemangkasan itu diperlukan untuk mengurangi risiko banjir bagi daerah bantaran sungai. ”Dan ini bukan yang pertama. Tahun 1990-an juga pernah dilakukan pemangkasan Curug Jompong,” kata Siswoko.

 

Ia mengingatkan, meski Curug Jompong dipangkas bukan berarti banjir tidak akan terjadi lagi. ”Kalau di daerah hulu tetap tidak ada penghijauan, sedimentasi sangat mungkin muncul lagi. Akhirnya, banjir pun terjadi. Selain itu, terjadinya land subsdence (amblasan tanah) juga menjadi penyebab mengapa banjir tetap terjadi, seperti di Dayeuhkolot. Ketinggian tanah di sana kan terus turun karena air bawah tanahnya berkurang, disedot oleh industri-industri,” ungkapnya.

 

Masalah baru

 

Sementara itu, pakar geologi lingkungan dari ITB, Dr. Ir. Budi Brahmantyo, menyatakan, pemangkasan Curug Jompong akan menimbulkan masalah baru. ”Jika Curug Jompong dipapas, arus Citarum makin cepat. Gradien sungai akan berubah sehingga terjadi erosi vertikal. Erosi ini akan menimbulkan penggerusan di dasar dan dinding sungai yang luar biasa. Akhirnya, sedimentasi terjadi lagi danterbawa ke Waduk Saguling,” katanya kepada ”PR”.

 

Staf dosen di Kelompok Keilmuan Geologi Terapan ITB itu menuturkan, sejak lama ia tidak sepaham dengan langkah sodetan dan pengerukan untuk mencegah banjir. ”Penyodetan dan pengerukan memang cukup efektif, tapi untuk jangka pendek. Kalau jangka panjang, sangat merugikan. Dan itu sudah pernah ada studinya tahun 1971 oleh Emerson, seorang peneliti Amerika Serikat,” tutur Koordinator Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB) itu.

 

Pemangkasan Curug Jompong untuk penanggulangan banjir Bandung selatan, dianalogikan Budi dengan cerita seorang petani yang digigit ular sawah tidak berbisa. Rasa sakit yang tidak seberapa dilampiaskan dengan membunuh seluruh ular sawah.

 

Dalam jangka pendek sang petani terbebas dari ancaman gigitan ular. Tapi dalam jangka panjang kerugian yang luar biasa besar akan datang dengan merajalelanya hama tikus ”Jadi, kita jangan seperti petani bodoh itu, yang bertindak spontan tanpa perhitungan,” katanya. (A-128)***

Sumber: Pikiran Rakyat, Sabtu, 3 Juni 2006.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

March 2007
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
%d bloggers like this: