Dieny & Yusuf

Curug Jompong Harus Dipangkas?

Posted on: March 2, 2007

Salah satu upaya untuk menghindarkan banjir dari kawasan Bandung selatan adalah dengan melakukan pemangkasan Curug Jompong yang berada di Desa Jelegong, Kec. Soreang, Kab. Bandung. Rehabilitasi hutan dan lahan kritis di wilayah hulu Sungai Citarum juga menjadi salah satu upaya yang harus dilakukan.

 

Demikian dikatakan Gubernur Jabar Danny Setiawan saat mengujungi korban banjir di kantor Kelurahan Andir Kec. Baleendah Kab. Bandung, Kamis (22/2). Ia mengatakan, pemangkasan Curug Jompong tak akan mengganggu kondisi lingkungan karena telah melalui berbagai kajian teknis.

 

”Kita telah meminta kepada pemerintah pusat melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum agar Curug Jompong diturunkan. Kalau dipangkas, air akan lebih cepat dan tak akan menggenang di Bandung selatan,” kata Danny.

 

Menurut dia, Departemen Pekerjaan Umum (PU) telah memiliki model tes untuk pemangkasan Curug Jompong ini.

 

Selain itu, Danny menjelaskan, proses rehabilitasi lahan kritis masih belum optimal. Saat ini, proses penanaman baru mencapai 15-30% dengan umur tanam 1-2 tahun. Intinya, proses penyerapan air di kawasan hulu masih belum optimal karena tanamannya masih jarang dan belum besar.

 

Kasubdin Operasional dan Pemeliharaan Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Jabar, Iding Prihadi mengatakan, hasil simulasi menunjukkan, jika Curug Jompong diturunkan 3 meter, permukaan air di Dayeuhkolot akan turun 1,68 meter. Menurut dia, pemangkasan hanya dapat dilaksanakan maksimal 3 meter karena mentok dengan operasional Waduk Saguling.

 

“Tidak ada jalan lain untuk mengatasi banjir ini. Kalau banjir, upayanya harus mengeluarkan air, dan pemangkasan Curug Jompong adalah salah satu upayanya,” kata Iding.

 

Merugikan

 

Polemik pemangkasan Curug Jompong telah berlangsung sejak tahun lalu. Namun, realisasi di lapangan belum dilakukan hingga kini. Pakar geologi lingkungan ITB, Dr. Ir. Budi Brahmantyo, membenarkan jika pemangkasan Curug Jompong akan mempercepat aliran Sungai Citarum dan menurunkan genangan air di Bandung selatan.

 

“Masalahnya, aliran Citarum makin cepat, maka tingkat erosi akan semakin tinggi. Akhirnya, sedimentasi terjadi lagi dan terbawa ke Waduk Saguling,” kata Budi.

 

Staf dosen di Kelompok Keilmuan Geologi Terapan ITB itu menuturkan, sejak lama ia tidak sepaham dengan langkah sodetan dan pengerukan untuk mencegah banjir. Penyodetan dan pengerukan, kata dia, memang cukup efektif tapi hanya untuk jangka pendek. Kalau jangka panjang, sangat merugikan. Dan itu sudah pernah ada studinya tahun 1971 oleh Emerson, seorang peneliti Amerika Serikat.

 

Koordinator Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB) itu juga mengatakan, secara alami, setiap sungai memiliki flood plain atau kawasan di bantaran sungai yang secara alamiah akan menampung air saat meluap. Masalahnya sekarang, banyak flood plain yang berubah fungsi menjadi permukiman.

 

Ia memberikan saran, pembangunan tanggul bagi wilayah permukiman adalah yang paling aman daripada harus memangkas curug itu.

 

Anggota DPRD Kab. Bandung, M. Ikhsan menilai bahwa alasan pemangkasan Curug Jompong harus diketahui oleh masyarakat, apakah harus dipangkas atau tidak. Menurut dia, jangan sampai pemangkasan itu hanya memindahkan masalah dari daerah hulu ke daerah hilir.

 

“Tak masalah kalau harus dipangkas. Asalkan, masyarakat harus tahu apa alasannya dan harus dapat dipertanggungjawabkan,” kata Ikhsan. (A-87/A-124/A-158)***

Sumber: Pikiran Rakyat, Jumat, 23 Februari 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

March 2007
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
%d bloggers like this: