Dieny & Yusuf

Bandung dan Gemericik Air yang Hilang

Posted on: March 2, 2007

SIANG hari di Bandung sekarang terasa lebih panas. Kontras dengan kenyataan kota ini di tempo dulu yang dikenal berhawa dingin. Keteduhan rimbun pepohonan tak didapati di setiap tempat. Hanya di taman-tamanlah kita mendapatinya.

 

SEBAGAI salah satu unsur kehidupan –selain api, tanah, dan udara–, air dirasakan memberi kesegaran tersendiri. Di samping menghilangkan dahaga, air juga memberi kesegaran lain. Penglihatan terasa jernih kembali dan membuat pikiran dan perasaan tenang di hati. Namun, kehadirannya tak jarang menjadi sumber konflik antarpribadi dan golongan.

 

Jika kita ingin mendapatkan kesegaran –khususnya yang ditimbulkan dari air–, kita dapat sekali-kali berkunjung ke air mancur di Jalan Merdeka Bandung. Semburan air seakan-akan menggapai langit. Namun, hanya setinggi kira-kira satu meter. Kesempatan itu seringkali dimanfaatkan sekelompok anak kecil jalanan untuk mandi. Tanpa malu-malu mereka bertelanjang dada bermain air di bawahnya yang memang terdapat kubangan dalam mangkuk besar.

 

Air mancur itu merupakan salah satu yang masih berfungsi di Kota Bandung. Karenakan sifat “istimewa”-nya air mancur ini diresmikan dengan nama Taman Air Mancur Jalan Merdeka. Diresmikan oleh Ateng Wahyudi dan Prof. Wiranto Arismunandar. Ketika itu mereka menjabat sebagai Wali Kotamadya Bandung dan Rektor ITB. Terukir beserta tanggal peresmiannya, 3 April 1989.

 

Sebenarnya bukan hanya di situ. Di taman-taman kota pun banyak ditempatkan air mancur, seperti di Taman Maluku, Alun-alun Kota, Taman Badak di Kompleks Balai Kota, Taman Ganesa, sekitar Monumen Perjuangan Jawa Barat, dan Monumen Dasasila Bandung di simpang lima. Namun, kehadirannya dirasakan kurang optimal karena beberapa di antaranya tidak berfungsi. Meskipun begitu, pipa-pipa penyalurnya masih terlihat “menonjol”.

 

Di Taman Maluku, kolam yang menampung air mancur seringkali digunakan untuk mencuci pakaian. Jemuran pakaian ditemui di atas tanaman kerdil di sekitarnya. Airnya sudah berwarna kehijauan. Air mancur yang ditunggu-tunggu, tepat berada di tengah kolam, tak kunjung keluar.

 

Begitu pula air mancur di Taman Badak, tempat Patung Badak berwarna putih berdiri. Bagian bawahnya terdapat sebuah kolam lumayan besar. Pada tepi kolam itulah terdapat banyak pipa penyalur. Namun, tak ada satu pun yang memancurkan air. Air yang berada di kolam itu hanya menjadi kubangan yang kadang-kdang terlihat kotor karena sampah dan dedaunan.

 

Air mancur Ganesha di Jln. Ganesha bernasib sama. “Cangkir” panjang tempat pipa penyalur berada terlihat menganggur. Tak ada tanda-tanda air akan keluar dari situ. Dalam kolam berbentuk lingkaran itu hanya terlihat beberapa genangan air di dasarnya. Kolam tak terisi penuh air.

 

Pada awal diresmikannya Monumen Perjuangan Jawa Barat, air mancur yang berada di selatan masih berfungsi. Sekarang tidak tahu mengapa, nasib air mancur itu mampet. Kolam hanya sebagai penampung air yang tak terlihat jernih.

 

Lain halnya dengan kucuran air Monumen Dasasila Bandung di sampang lima. Tidak berbentuk air mancur, hanya air yang meluncur ke bawah. Jika air itu mengucur dari atas piringan marmer teratas terlihat begitu asyik mengalir di piring-piring marmer di bawahnya. Ornamen menyerupai piringan tersebut berjumlah sepuluh, yang semakin bawah ukurannya semakin kecil. Angka sepuluh melambangkan komunike hasil Konferensi Asia Afrika tahun 1955 di Bandung.

 

Penamaan monumen ini sesuai dengan sebutan Djefry W. Dana dalam buku Ciri Perancangan Kota Bandung. Monumen Dasasila Bandung adalah monumen berbentuk untaian sepuluh piringan marmer tersusun vertikal yang dilengkapi dengan air dari bagian atasnya (1990: 91-92). Lain halnya dengan Haryoto Kunto (alm.) dalam buku Semerbak Bunga di Bandung Raya. Pada halaman 917, disajikan foto momumen beserta ilustrasinya. Bangunan tersebut ditulis sebagai Tugu Asia-Afrika (?). Penambahan tanda tanya di belakangnya sesuai dengan tulisannya dalam buku tersebut.

 

Karena keberadaannya, beberapa air mancur tersebut dimasukkan dalam Daftar Kelengkapan Taman Kota, inventarisasi yang dikeluarkan Dinas Pertamanan Kota Bandung.

 

**

 

ORANG tak akan marah jika terkena cipratan air mancur. Kejadian ini seringkali menimpa pengendara sepeda motor yang kebetulan melintasi simpang lima. Cipratan terjadi jika air yang mengucur terhembus angin kencang. Terasa segar sejenak di saat hawa panas siang.

 

Itulah kesegaran yang didapati dari air mancur. Jika semua air mancur di Bandung berfungsi optimal, bukan mustahil akan memberikan kesegaran kepada warganya. Kesegarannya dapat memberikan ketenangan dan kejernihan baik pikiran maupun perasaan. Terlebih akan membuat Bandung tetap “segar” di usia ke-192 tahun ini, tepatnya pada 25 September. Terakhir, Anda pernah merasakannya? Atau ingin merasakan sensasinya? (Donto D.R.)***

 

Sumber: Pikiran Rakyat, Minggu 6 Oktober 2002.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

March 2007
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
%d bloggers like this: